Aku sudah berada di kamarku. Aku masih mengingat bayangan Rain di taman tadi. Hatiku perih. Aku sudah tidak dapat menghitung berapa lama aku menangis. Air mataku tetap mengalir tiada henti. Aku tahu Rain pasti sangat sedih dan benci padaku. Tapi tahukah kamu bahwa aku lebih menderita. Sangatlah menyakitkan bahwa kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai terutama jika orang tersebut juga mencintai kita. Hatiku pilu.
I couldn’t possibly be a medicine to cure your wound
I could only be a tissue to wipe off your tears
I couldn’t possibly be a person who take care of you
I could only be the one who pray for your happiness
I hope you will be happy, Rain… With or without me…
*****
“Vi, please kasih tahu gue apa yang terjadi dengan Nadya? Gue coba hubungin ke handphonenya tapi ga aktif dari semalem habis dia pergi ninggalin gue”, Rain bertanya kepada Viona. Terdengar nada kesal dari pertanyaan Rain.
“Hah? Emang kenapa ama Nadya? Aku udah 3 hari ga kontek-kontekan ama dia. Kenapa Nadya?”, Viona bertanya dengan cemas.
“Gue juga ga tahu, Vi. Kemarin gue abis pergi dinner ama dia. Trus dia ajak gue ke taman. Dia ajak gue main hide and seek. Trus tiba-tiba dia menghilang. Gue coba hubungin handphonenya, tapi ga aktif.”
“Haha…lo berdua kayak anak kecil aja masih maen begituan.”
“Vi, gue ga bercanda. Gue udah coba nelpon dia dari kemarin tapi ga aktif.”
“Lo udah coba kerumahnya belum?”
“Belum vi. Gue udah ga bisa mikir lagi. Dia kemarin kasih gue surat suruh gue lupain dia. Gue kesel banget. Halahhh gue bener-bener ga ngerti ama jalan pikiran dia. Kemarin padahal pas dinner masih baik-baik aja”, Rain mendengus kesal.
“Bentar gue coba telepon dia deh”
Kemudian Viona menelepon Nadya dengan handphonenya.
“Ga aktif. Gue coba telpon kerumahnya deh”
“See I told you”
“Halo, Nadya nya ada?”, Viona berbicara melalui handphone-nya.
“Ok. Tar tolong bilangin ke Nadya kalo Viona cari dia. Makasih yah mbak”
“Kata pembantunya si Nadya udah pergi dari pagi”, ucap Viona ke Rain setelah mematikan handphone-nya.
“Terakhir dia ada ngomong apa ama lo?”
“Ga ada tuh. Lo tenang aja Rain. Tar kalo dah bisa hubungin dia, gue bakal kasih tau lo”, ucap Viona berusaha menenangkan Rain.
“Ok thanx yah vi”
*****
Aku dan Nathan sedang berjalan-jalan ke sebuah mall besar di Jakarta yang baru selesai dibangun. Nathan mengajakku kesana untuk mencari barang-barang keperluan menikah kita nanti. Nathan mengajakku ke sebuah toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan kami yang akan dilangsungkan dalam 6 bulan mendatang. Ketika sedang memilih dan mencoba-coba cincin di sebuah toko diamond ternama, tak sengaja aku melihat ke arah luar toko. Dan aku melihat Rain sedang bersama teman-temannya melintasi toko tersebut. Aku buru-buru menundukkan kepalaku. Aku berharap Rain tidak melihatku. Semoga saja dia tidak melihatku. Setelah menunduk untuk beberapa menit, aku mencoba untuk mengarahkan pandanganku keluar toko tersebut. Fiuuuhhh Rain sudah tidak ada disana. Aku menghela nafas lega.
“Kenapa yank?”, Tanya Nathan dengan tatapan bingung.
“Ng.. gak papa. Aku suka yang ini. Bagus ga?”, aku mencoba mengalihkan Nathan dengan menyodorkan salah satu cincin dengan bentuk simple namun terlihat elegan. Cincin polos setebal setengah senti dengan batu berlian bermata satu.
“Bagus. Ya udah kita ambil yang ini aja yah”, jawab Nathan.
“Dan dalam 6 bulan ke depan maka kamu akan menjadi Nyonya Fernando”, lanjutnya sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya.
****
“Oke sayang sampai ketemu besok yah”, Nathan mengecup keningku ketika aku turun dari mobil. Dan mobilnya melaju pergi hilang dari pandanganku.
Aku berusaha membuka pagar rumahku dan tiba-tiba dikejutkan oleh suara yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku hampir menjatuhkan kunci rumahku.
“Siapa dia?!”, Rain terlihat murka. Tatapan kebencian terpancar di matanya.
“Eeh…bukan siapa-siapa. Kamu kenapa tiba-tiba muncul di rumahku?”, aku bertanya balik tanpa menghiraukan pertanyaannya.
“Menurut kamu kenapa aku begitu? Kamu tiba-tiba ninggalin aku di taman malam itu. Trus aku berusaha buat hubungin handphone kamu juga ga pernah aktif. Tahu ga berapa banyak sms dan voicemail yang aku kirim ke handphone kamu? Tahu ga sudah berapa malam aku nunggui kamu didepan rumah kamu. Tapi baru hari ini aku bisa ketemu ama kamu secara langsung. Sekarang kamu masih tanya kenapa aku kesini tiba-tiba?”, Rain mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal.
“Maaf…aku pikir kamu udah mengerti…”
“Kamu mau aku ngerti apa? Kalo kamu ama cowok yang tadi itu? Kamu coba permainin aku yah selama ini?”, Rain mencengkeram lenganku dengan kasar. Terlihat tatapan amarahnya. Air mata terlihat mengambang di matanya.
“Rain…sakit…please”, aku memohon kepada Rain. Belum pernah kulihat ia semarah ini. Yang kutahu Rain adalah sosok pria lembut dari pertama aku mengenalnya. Tapi aku tahu ini semua salahku. Aku yang membuatnya jadi begini.
Dia melepas cengkeraman tangannya pada kedua lenganku.
“Jawab aku Nad… Sejujurnya apakah kamu mencintaiku?”, Rain bertanya dengan putus asa.
Aku hanya bisa terdiam. Aku berusaha terlihat setenang mungkin. Bagaimana mungkin aku bisa tega melihat seseorang yang aku sayangi berdiri didepanku dengan kondisi yang terlihat kacau; rambutnya berantakan dan tatapan matanya terlihat sendu.
“Kalau aku mencintaimu, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu. Selamat malam”, jawabku sambil menatap Rain. Dia terlihat kaget dengan jawabanku. Kemudian aku membalikkan badanku untuk membuka pintu.
Aku sesegera mungkin untuk masuk ke dalam rumahku. Rain masih berdiri mematung disana. Aku segera berlari masuk ke dalam kamarku. Dan tangisku pecah.
Maafin aku Rain…Maafin aku. Aku ga tau lagi apa yang harus aku lakukan. Maaf apabila aku sangat menyakitimu. Asal kamu tau, hatiku lebih perih melihatmu terluka. Tapi ini jalan terbaik bagi kita berdua. Seenggaknya ini jalan terbaik untuk saat ini menurutku.
Air mataku tak mau berhenti mengalir. Sudah 15 menit berlalu dan aku masih menangis di dalam kamarku. Sungguh menyakitkan bila kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai. Bisakah cinta menjadi hal yang mudah tanpa kesedihan?
Aku mulai berjalan untuk mengintip ke arah luar jendela. Rain masih berdiri mematung disana. Dia tidak bergerak sama sekali. Dia berdiri dengan tatapan mata lurus. Aku berharap aku bisa menghampiri dan memeluknya. Tapi….tak ada yang bisa kulakukan untuk saat ini. Maaf…
Gerimis hujan mulai turun. Rain tetap berdiri disana. Ya Tuhan aku tak sanggup untuk melihatnya dibasahi hujan seperti itu. Hujan turun semakin deras dan dia masih berdiri disana tidak bergeming. Aku tak sanggup melihat pemandangan memilukan seperti ini. Kemudian aku bergegas ke tempat tidur dan berusaha memejamkan mataku.
*****
Two weeks later…
Sudah lama aku tidak membuka e-mail ku. Aku mencoba untuk membuka e-mail ku untuk mengecek pesan masuk karena aku telah mengganti nomor ponselku dan Cuma keluargaku dan Nathan saja yang tau. Aku tidak memberi tau semua teman-temanku termasuk teman baikku, Mori. Sudah hampir sebulan aku tidak berbicara dengannya. Aku ingat pembicaraan terakhir kita yang membuatnya murka. Ada beberapa pesan masuk dari teman-temanku. Dan kulihat salah satunya dari Viona. Ah Viona…Aku memang menghindari gadis itu. Dia pasti sangat marah denganku sama seperti Mori. Apalagi dia yang mengenalkan aku kepada Rain. Kulihat judul e-mail nya IMPORTANT!!! dan dikirim seminggu yang lalu. Aku coba membuka pesan masuknya:
Rain sudah meninggalkan jakarta kemarin malam. Gue ga tau apa yang terjadi ama lo dan gue berharap lo ga pernah menyesalinya.
- Mori -
Aaahhh tentu saja aku akan menyesalinya, Mor. Aku pasti menyesal telah melepaskan kebahagiaan yang telah hampir kuraih. Tapi ya sudahlah.
Aku tidak membalas pesan dari Mori. Dan aku juga tidak berminat untuk membaca semua pesan masuk dari teman-temanku. Kuarahkan kursor mouse ke arah delete. Dan kuhapus semua pesan masukku.
Rain….dimanakah kamu? Apakah kamu baik-baik saja? Kuharap kamu baik-baik saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar