“APAA?? GILA BANGET!! Trus lo ga jawab iya kan Nad?”, Mori, sahabat baikku, terlihat shock dengan berita Nathan melamarku. Aku terdiam.
“Nad? Kenapa lo diem aja? Lo ga jawab “iya” kan ke Nathan?”, suara Mori terdengar meninggi melihat reaksiku yang hanya mematung.
Aku hanya mampu menghela nafas panjang hingga akhirnya aku menjawab, “Gue ga tau Mor. Gue ga bisa berkata apa-apa. Gue cuma bisa membiarkan dia memakaikan cincin itu ke tangan gue”
“LO DAH GILA YAHHH? Oh shittt!!! Nad, apa sih yang lo pikirin? Otak lo udah ga beres yah? Gimana mungkin lo terima cincin dari cowok brengsek itu? Gue bener-bener ga ngerti jalan pikiran lo”, Mori terus mengomel panjang lebar. Belum pernah aku melihat Mori semarah itu. Tapi aku tau Mori bereaksi seperti itu karena dia sayang ama aku. Dia sahabat terbaikku.
“Gue bingung Mor. Gue…”
“Nad, lo inget ga sih betapa gilanya si Nathan? Lo inget ga waktu dia memberikan 10 Larangan yang dia print-out dan tempel di kamar lo dulu? Lo inget ga waktu dia tiba-tiba ninggalin lo demi cewek lain? Lo inget ga waktu lo hujan-hujan ke rumahnya mau ketemu ama dia tapi dia sama sekali ga perduli ama lo? Lo inget ga semua itu?!! Otak lo udah gak beres gue rasa. Sekarang dia ngelamar lo dan lo terima? Apa jangan-jangan lo terpengaruh karena cincin diamond yang dia kasih ke lo?”
“Kok lo tega-teganya nuduh gue kayak gitu Mor? Lo kan udah lama kenal gue. Gue ga nyangka lo bisa nuduh begitu ke gue”, aku sangat kecewa dengan tuduhan Mori kepadaku. Dia sama sekali ga tau apa yang aku pikirkan.
“Gue juga ga nyangka lo bisa sebodoh itu. Gue bener-bener kecewa ama lo Nad”, Mori membuang muka tanpa mau menatapku. Aku tau dia pasti sangat kecewa padaku.
“Sorry Mor”, ujarku sambil meninggalkan kamar Mori. Entah apa yang ada di pikiranku. Aku hanya merasakan bahwa jiwaku bagaikan tak menyatu dengan ragaku. Pikiranku juga tampak tidak menyatu dengan jiwa dan ragaku.
“Trus gimana dengan Rain?”, Mori bertanya dengan dingin.
Aku tidak menjawab pertanyaan Mori dan aku berlalu pergi. Maaf…
*****
Aku sedang bersiap-siap untuk tidur dan bunyi pesan masuk pada handphoneku. Aku membuka isi pesan tersebut. Rain…
“Maybe I’m too afraid to tell you that I miss you. But I really miss you today. But u keep silence tonight. I’m wondering if this is only a dream, I don’t want to be wake up coz I don’t brave enough to see u leave. Can I meet u? Good nite my lady”
Cepat atau lambat aku memang harus berbicara dengan Rain. Aku ga bisa membiarkan ini terus berlangsung. Aku ingin semuanya berjalan dengan sempurna.
“How about dinner tomorrow night after working? 7 PM.”
Aku membalas pesan dari Rain untuk bertemu dengannya besok malam. Hanya sebuah kata-kata yang terlintas dalam pikiranku “Don’t play with fire or you will get burn”. Dan aku berusaha memejamkan mataku untuk tidur.
*****
“Aku paling suka suasana di restoran ini. Tempatnya cozy banget”
“Aku juga suka. Karna ada kamu”
Aku merasakan pipiku memerah. “Kamu bisa aja”, ucapku kemudian.
Kutatap Rain dalam-dalam. Mungkin aku tak bisa menatapnya lagi seperti ini. Maka aku ingin menatapnya lekat-lekat. Aku ingin menyimpannya dalam benakku. Rain…sosok yang aku rindukan kelak.
“Jangan kagum gitu donk. Liatin aku ampe segitunya”. Rain tampaknya menyadari aku menatapnya terus menerus.
“Yeeeyyy kamu ge-er banget sih”, jawabku dengan gaya salting.
“Dari tatapan mata kamu, kamu kayak nyimpen sesuatu. Kamu kenapa? Apa ada yang mau kamu bicarakan?”, tanyanya kemudian setelah keheningan untuk beberapa saat. Rain tampaknya menyadari bahwa ada yang ingin aku bicarakan kepadanya. Aku yakin dia pasti menyadari sorot kesedihan yang terpancar dalam mataku.
“Eh makanannya udah datang. Cobain deh. Kayaknya enak”, jawabku sambil mengalihkan pembicaraan. Aku ga mau merusak suasana makan sekarang. Kata demi kata bermain-main di dalam otakku. Setelah makan malam nanti mungkin aku harus mengucapkan perpisahan kepadanya.Meskipun dengan berat hati.
“Aku ingin berjalan-jalan di taman. Mau cari suasana segar”, ucapku pada Rain setelah makan malam selesai.
*****
Hari ini dia terlihat sangat tampan. Rambutnya tertata rapi. Dia tersenyum kepadaku dan mengangguk. Ahhh senyumannya terlihat manis sekali. Senyum yang akan aku rindukan di kemudian hari. Aku hanya ingin menikmati malam ini bersamanya. Mungkin ini adalah malam terakhir bagi kami berdua. Setelah malam ini, mungkin kami tidak akan bertemu lagi.
Aku menghela nafas panjang ketika mengingat semua itu. Berat rasanya hati ini untuk melupakannya. Namun aku harus melakukannya. Karna aku telah memilih untuk menikah dengan Nathan.
“Kenapa Nad? Kok dari tadi aku perhatiin kayak ada yang kamu pikirin? Boleh aku tau?”, Rain tiba-tiba bertanya kepadaku setelah kita berjalan-jalan di taman sementara aku hanya bermain-main dalam pikiranku sendiri.
Aku tersenyum dan berkata “Aku hanya ingin menikmati malam ini. Mungkin aku ga bisa menikmati suasana kayak gini lagi nantinya”
“Kamu suka jalan-jalan di taman kayak gini? Ya udah ntar kapan-kapan kan kita bisa jalan kesini lagi kalo kamu mau”
Aku tersenyum dan menatapnya. Kamu bodoh sekali, ucapku dalam hati.
“Ada yang mau aku tanyain ama kamu”, aku tiba-tiba berhenti dan berdiri berhadapan dengannya.
“Apa?”, tanyanya sambil menatapku dengan lembut.
“Bagaimana kalo ketika kamu menutup mata dan pada saat kamu membukanya lagi, aku udah ga ada?”, tanyaku sambil menutupkan kedua belah matanya dengan kedua telapak tanganku.
Dia menggenggam kedua tanganku yang menutup matanya dan menggenggamnya dengan erat. “Aku ga akan membiarkan kamu pergi dari hadapanku. Aku akan menggenggammu seperti sekarang ini. Karna aku ga ingin kehilangan kamu. Aku mencintai kamu Nad.”
Aku hanya tersenyum dan melepaskan genggaman tangan darinya. Kemudian aku membalikkan badanku dan memegang tiang yang berada di sisi jalan.
“Kamu liat deh disana. Bagus yah lampu-lampunya”, ucapku pada Rain yang menyusulku berdiri di samping tiang.
Dia mengikuti arah pandang ke tempat yang aku tunjuk dan berkata “Iya. Bagus banget.”
“Eh kita main hide and seek yuk. Kamu yang cari, aku yang ngumpet. Kamu pejamin mata kamu dan ga boleh balik badan ampe hitungan ke-10. Setelah itungan ke-10 kamu baru boleh cari aku. Aku akan kasih kertas yang berisi penunjuk tempat dimana aku berada. Gimana oke ga?”, kataku kepada Rain.
“Buat ngapain sih main begituan?”, tanyanya heran.
“Ga papa. Aku cuma pengen main aja ama kamu. Please sekali ini aja. Aku bener-bener pengen nikmatin malam ini. Yaaa? Pleaseeeeee.”, ucapku dengan tatapan sendu.
Aku ga tau lagi bagaimana membuat suasana perpisahan yang indah. Karna aku pasti ga sanggup untuk mengatakan itu semua secara langsung. Aku ga ingin dia menatapku pergi. Karna aku tau betapa sakitnya ketika menatap seseorang berlalu pergi dan menjauh. Seperti sakitnya hati ketika melihat Nathan pergi dari ku ketika dia memutuskan hubungan denganku. Meskipun aku tau aku akan menyakiti Rain. Tapi aku ga ingin dia menatapku pergi. Hal itu akan lebih menyakitkan. Rain mengangguk setuju. Aku tersenyum kepadanya.
“Oke kamu balik badan dulu. Aku mau nulis petunjuk dulu. Kamu ga boleh ngintip yah?”, ucapku sambil mengeluarkan kertas dan pulpen dari tas ku.
“Iyahhh sayang”, ucapnya sambil membalikkan badan.
Aku menuliskan beberapa kata-kata di secarik kertas untuk beberapa saat. “Udah”, ucapku kemudian setelah selesai menulisnya. Kemudian aku menyelipkannya didalam jemarinya sambil kugenggam erat-erat.
“Kamu hitung ampe sepuluh kemudian baca petunjuk yang aku tulis. Aku harap kamu bisa mengerti sama apa yang aku tulis. Thank you…”, bisikku dari belakang dengan lembut ditelinganya.
“Ayo kita mulai hitung sekarang. Mulai!!!”, ucapku padanya sambil berjalan mundur.
“Satu…”
Rain…maafin aku. Sungguh berat hati ini harus melepaskanmu.
“Dua….”
Tapi aku harus melakukan semua ini. Semoga suatu hari nanti kamu bisa mengerti atas apa yang aku lakukan…
“Tiga…”
Hati ini terasa perih untuk berjalan mundur seperti ini dan melihat punggung belakang tubuhmu yang mulai menjauh dari hadapanku…Ku sadari bahwa aku mulai menyayangimu…Aku telah jatuh cinta kepadamu…
“Empat…”
Air mata telah mulai membasahi kedua belah pipiku. Sanggupkah aku berjalan mundur untuk menjauh dari seseorang yang aku cintai tapi aku tidak bisa bersamanya.
“Lima…”
Mungkin hal yang paling menyakitkan didunia ini adalah ketika kita mencintai seseorang namun kita harus menerima kenyataan bahwa kitatidak bisa bersama orang yang kita cintai karna beberapa hal…Inilah yang sedang aku rasakan sekarang…Setelah Nathan, sebuah cinta baru hadir yaitu ketika bertemu kamu Rain…
Kemudian aku membalikkan tubuhku untuk berlari menjauh dari tempat itu sambil menangis. Sayup sayup masih terdengar suara Rain yang masih menghitung hingga suaranya makin menjauh dan menghilang.
“Enam…”
“Tujuh…”
“Delapan…”
“Sembilan…”
“Sepuluh…”
Rain membuka mata dan melihat kertas petunjuk yang diberikan oleh Nadya.
Rain…
Maafin aku. Tapi aku harus pergi. Maaf bila aku ga bisa bersama kamu. Maaf bila aku bukan seseorang yang tepat bagimu. Maaf bila kita harus berpisah dengan cara seperti ini. Aku harap suatu saat nanti kamu akan mengerti. Terima kasih atas segalanya. Terima kasih atas kebahagiaan yang telah kamu hadirkan dalam hidupku sejak kita bertemu. Terima kasih atas semua cinta yang telah kamu berikan kepadaku. Terima kasih atas setiap malam indah yang telah kita lalui bersama terutama hari ini. Terima kasih telah pernah hadir dalam hidupku. Terima kasih atas segalanya…
- Nadya -
Rain mulai berkaca-kaca. Pertanyaan demi pertanyaan hadir dalam pikirannya. Dan ia tidak tau jawabannya. Karna Nadya telah membawa pergi semua jawaban tersebut. Air mata mulai menetes dari sudut-sudut matanya. Ahhh dasar gadis bodoh. Apa sih yang kamu pikirkan. Kamu pikir aku bisa menerima semua ini begitu saja?
Dan Rain tau siapa orang yang harus ia cari untuk menanyakan soal Nadya. Viona.
Dan hujan pun turun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar