Minggu, 10 Juli 2011

Serial Nadya eps. 6 - BeTweeN hiM anD hiM

It’s Sunday

Hari ini aku ada janji ama Nathan untuk bertemu di Starbucks, Plasa Senayan jam 4 sore. Dia sudah duduk di salah satu bangku bagian outdoor menungguku. Jantungku berdetak dan aku merasa gugup ketika melihatnya. Dia melambaikan tangan kepadaku ketika melihatku. Aku berjalan ke arahnya. Wajahnya masih terlihat sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Hanya terlihat lebih kurus sedikit. Dia menggunakan kemeja coklat dengan detail garis, hadiah yang pernah kuberikan ketika dia berulang tahun saat kita masih bersama. Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa dia menggunakan kemeja itu ketika bertemu denganku.

“Sendiri aja? Pacarmu mana?”, tanyaku ketika duduk dihadapannya.

Pikiranku langsung flashback ketika dia memutuskanku ketika kita di Excelso. Kata-katanya masih terngiang jelas ditelingaku.

“Haii…Udah lama ga ketemu. Kamu makin cantik aja”, dia malah memujiku dan tidak menjawab pertanyaanku. “Apa kabar?”, lanjutnya.

“Aku baik-baik aja. Kamu gimana?”, ucapku sambil tersenyum. Saat ini aku merasa bahagia meskipun butuh waktu lama bagiku untuk melupakan sosok yang ada didepanku.

“Hmm…aku juga baik-baik aja”, dia tersenyum sambil menatapku dengan tatapannya yang teduh. Aahh pandangan mata itu. Pandangan mata yang dulu pernah aku rindukan. Kemudian aku buru-buru tersadar. Aku ga mau terlena lagi. Aku sudah mampu melupakannya setelah sekian lama. Aku ga mau usaha aku selama ini sia-sia.

“Ow oke”, jawabku singkat. “Oiyah ada apa yah mengajak aku bertemu?”, tanyaku lebih lanjut.

Dia terdiam dan menatapku. Tatapan matanya bagaikan sedang mencari-cari sesuatu di mataku. Aku menatapnya dengan bingung. Ada apa dengannya?

“Apakah kamu masih merindukan aku?”, pertanyaan yang membuat aku kaget dan shock.

Aku hanya tertawa dan berkata, “Untuk apa menanyakan hal seperti itu? Kayaknya bukan hal yang penting deh.”

Dia tertawa kecil sambil menunduk sebentar. Kemudian menatapku lagi dengan serius. Dan berkata, “Karna aku masih merindukanmu selama ini. Aku ga pernah bisa melupakanmu. Dan aku ga pernah berhenti menyesali bahwa aku meninggalkanmu dulu.”

BLAST!! Jantungku berhenti berdegup untuk seketika. Pandangan mataku blur untuk seketika. Dan kupingku bagaikan berdenging. Apakah ini semua mimpi? Aku berusaha menyadarkan diriku. Mungkin aku hanya salah mendengar.

“Hah?”, hanya itu kata-kata yang terucap dari bibirku setelah berusaha mengumpulkan kesadaranku.

Dia tersenyum geli menatapku. Mungkin aku terlihat bodoh dihadapannya. Dia mengacak-acak rambut depanku dengan lembut sambil berkata, “Duh kamu jangan kaget gitu donk. Kamu masih sepolos dulu yah? Reaksi kaget kamu lucu.”

“Aku ga ngerti ama perkataan kamu tadi”, ucapku singkat.

Wajahnya terlihat kaget mendengar perkataanku barusan. Dia tersenyum lembut kepadaku. “Aku masih mencintaimu Nadya. Aku..Aku udah putus ama pacarku. Dan…”

“Dan kamu ingin mencari pelarian ke aku? Gitu? Kamu salah kalo berpikir bahwa aku masih merindukan kamu. Jujur aja aku udah lama ngelupain kamu. Waktu setahun lebih udah mampu membuat aku menata lagi hidup aku tanpa kamu. Dan aku bahagia sekarang. Jadi kamu ga perlu buang-buang waktu kamu untuk mengatakan bahwa kamu masih mencintaiku”, aku memotong pembicaraannya dengan ketus. Aku ga mau mendengar semua omong kosong dari mulutnya lagi. Aku berusaha mengontrol emosi yang bergerak tak beraturan.

“Nadya, ga pernah sekalipun aku ingin mencari pelarian ke kamu. Aku bener-bener menyesal udah pernah menyakiti hati kamu. Asal kamu tau, Nad, aku ga pernah berhenti mengingat tentang dirimu. Aku sangat merindukan waktu kita masih bersama. Cuma kamu yang bisa membuatku bahagia. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku. So please give me a chance, Nad. Aku pengen kita balikan lagi”, Nathan berusaha menggenggam tanganku. Aku menepisnya. Aku makin ga ngerti dengan maunya. Sekarang dia malah meminta balikan. Kepalaku terasa berkunang-kunang.

Aku menggelengkan kepalaku dan berkata, “Than, ini adalah hal yang ga mungkin. Aku udah bersusah payah menghapus kamu dari kehidupanku dan sekarang setelah aku mampu melalui semua masa-masa sulit tersebut kamu malah mau memintaku kembali kepadamu? Sorry aku ga mau, Than. Aku udah merasa cukup atas semuanya.”

“Nad, pleaseee! Kamu coba mikir-mikir dulu deh”, dia merajuk.

“Than, dengerin yah. Aku udah ga ada perasaan apa-apa lagi ama kamu. Saat ini aku sedang dekat dengan seseorang. Aku menyukainya. Aku harap kamu mengerti. Sorry aku udah harus pergi. Bye”, aku meninggalkan Nathan yang masih terduduk disana. Aku harus terlihat tegar didepannya. Dia yang selama ini telah menyakiti hatiku kini memintaku kembali disaat aku sudah melupakannya. Aku bener-bener tidak mengerti maksud dan tujuannya. Aku berusaha untuk tidak menengok ke belakang tempatnya duduk. Dan tanpa terasa air mata menetes dari mataku. Aahh aku ga ngerti apa yang aku tangisi. Aku ingin mengubur semua masa laluku bersamanya. Karna aku telah berjalan sejauh ini, aku ga ingin kembali ke tempat dimana aku tidak merasa bahagia. Aku berlalu dari Starbucks.
*****

Friday, 11 p.m


Handphoneku berbunyi keras. Aku melihat layarnya tertera nama Nathan. Mau apa lagi sih dia malam-malam gini? Aku mencoba untuk tidak menghiraukan teleponnya. Namun dia menelepon terus-terusan hingga akhirnya aku angkat teleponnya.

“Halo?”

“Hai, Nad. Kamu lagi ngapain? Kok lama banget angkatnya?”, nada suaranya terdengar manja. Tapi aku ga terpengaruh sama sekali.

“Mau ngapain lagi sih kamu nelpon aku?”, aku mulai gusar ketika menjawab teleponnya.

Dia terdiam dan tidak menjawab.

“Aku kan udah bilang dengan jelas waktu itu. Saat ini aku sedang dekat dengan seseorang. Aku menyukainya. Aku ingin memulai kehidupan baruku dengannya”, lanjutku tanpa menghiraukan kebisuannya.

“Apa kamu mencintainya? Apa dia bisa menggantikan aku dihatimu?”

“Kamu kenapa sih?”

“Nad…aku ga akan berhenti mengejarmu. Aku ga akan segitu gampangnya menyerahkan kamu ke cowok lain. Aku masih mencintai kamu, Nad. Aku tau kamu juga masih mencintai aku. Kamu jangan membohongi dirimu sendiri. Aku ga akan menyerah”

Aku terdiam dan membisu. Aku benar-benar telah kehabisan kata-kata. Mungkin dia benar. Jauh di lubuk hatiku aku mungkin masih menyayanginya. Tapi aku telah menghapus bayangannya dari hidupku. Sekarang aku menyukai Rain. Nathan hanya bagian masa laluku. Masa lalu yang telah aku lupakan.

“Nad…aku sekarang ada di depan rumahmu. Aku ingin bertemu denganmu. Please”

Nathan memang bener-bener nekad. Udah malam gini masih datang ke rumahku. Aku bisa aja membalas perlakuan dia padaku ketika dulu. Tapi aku ga mau melakukannya. Karna aku tau sakitnya ditolak. Meskipun dia adalah orang yang pernah menolak untuk bertemu denganku. Tapi tidak sedikitpun terbersit oleh pikiranku untuk membalasnya. Yah mungkin untuk saat ini. Aku membukakan pintu untuknya. Betapa kaget aku melihat dia sedang memegang sebuah buket bunga mawar berwarna pink yang terbungkus rapi. Bunga-bunga itu terlihat indah. Dia masih ingat bunga kesukaanku. Pink Rose.

“Nih buat kamu”, ucapnya sambil menyerahkan sebuket bunga mawar pink tersebut.

“Thanx. Sebenernya kamu ga perlu repot-repot. Aku rasa aku sudah mengatakan dengan cukup jelas. Harusnya kamu udah tau jawabanku. Harusnya…”, belum habis kalimatku dia tiba-tiba memberikanku sebuah cincin diamond berbentuk hati dan berkata, “Aku ingin kamu menikah denganku. Dulu kita udah pernah pacaran. Sekarang aku ingin melamar kamu untuk menjadi pendamping hidupku. Will you marry me?”

Aku kaget setengah mati. Dan aku hanya mampu berdiri mematung menatapnya tanpa berkata sepatah kata apapun. Duniaku terasa berputar begitu cepat hingga aku tak mampu menyadari apa yang sedang terjadi. Rain yang baru-baru ini menyatakan perasaannya kepadaku. Nathan yang tiba-tiba kembali dan ingin melamarku saat ini. Jiwaku bagaikan melayang keluar dari ragaku. Dan aku masih terdiam. Dan dia masih memegang cincin tersebut di hadapanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar