A week later…
Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Perasaan rindu yang menggebu tak mampu membuatku untuk berdiam diri. Aku ingin menemuinya. Tanpa disadari aku menyetir mobilku untuk pergi ke rumahnya. Mobilku terhenti tepat di depan rumahnya. Pagar berwarna stainless steel rumah itu tertutup rapat. Mobilnya terpakir rapi di halaman rumahnya. Aku pernah ke rumah itu. Aku pernah memasuki rumah itu. Rumah yang dulu aku singgahi untuk beberapa kali. Aku memarkir mobilku beberapa rumah dari rumahnya. Aku berjalan keluar dari mobilku untuk berdiri agak jauh dari pagar rumahnya. Aku takut orang-orang rumahnya melihat kehadiranku. Aku menekan beberapa digit angka nomor handphonenya dari handphoneku.
“Halo”, suaranya terdengar jelas setelah nada sambung berbunyi untuk beberapa kali.
“H-Halo”, jawabku gugup. “Kamu lagi ngapain?”
“Lagi nonton TV nih. Kamu lagi ngapain?”
“Aku ada di depan rumahmu. Aku pengen ketemu ama kamu. Bisa gak kamu keluar bentar?”
“Kamu ngapain kesini? Kenapa ga bilang-bilang dulu?”, nadanya terdengar gusar.
“Maaf”, jawabku lesu.
“Sorry aku ga bisa temuin kamu. Aku takut kamu bakalan nangis. Aku paling ga tahan liat kamu nangis. Kamu mendingan pulang aja ok? Aku bener-bener ga bisa. Sorry.”
Aku menghela nafas panjang. “Oke. Maaf udah mengganggu kamu”, lanjutku.
Dan entah kenapa langit serasa mengerti kesedihanku. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Aku tetap berdiri disana. Air mataku yang mengalir keluar telah bercampur dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuhku. Aku melihat bayangan dirinya di jendela sedang menatapku. Aku tetap berdiri disana. Ingin kulangkahkan kakiku untuk menjauh dari tempat itu. Namun aku tak mampu menggerakkan kedua kakiku. Aku hanya mampu berdiri di tempat itu sambil menangis. Tiba-tiba handphone ditanganku bergetar dengan nada SMS yang masuk. Aku coba untuk membacanya dengan susah payah karena hujan deras yang membasahi layar handphoneku.
Kamu mendingan pulang deh. Aku ga mau kamu nanti jatuh sakit. Maaf.
Aku sangat mengerti kata-kata darinya di SMS tersebut. Kemudian aku mengerahkan kekuatan penuh untuk menggerakkan kakiku untuk berjalan ke arah mobilku. Bajuku yang telah basah kuyup membasahi jok mobilku. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam mobilku. Aku tak tau telah berapa lama aku menangis di dalam mobilku. Hatiku sudah tidak dapat lagi dilukiskan dengan kata-kata. Hanya perih yang terasa. Hanya sesak yang terasa di dadaku. Hingga tidak aku hiraukan lagi dingin yang menyelimuti seluruh tubuhku. Tiada lagi kehangatannya dalam menyambutku seperti dulu. Dia telah benar-benar berubah menjadi sosok yang tidak kukenal lagi. Dia yang dulu begitu gencar untuk mendekati aku. Dia yang dulu mengucapkan kata-kata manis padaku. Dia yang dulu berjanji ingin membuatku tersenyum setiap hari. Namun dia telah membuatku menangis setiap hari selama sebulan lebih sejak di coffee shop itu. Aku sangat merindukan sosoknya yang dulu yang begitu mencintaiku dan perduli padaku. Namun kini dia sudah tidak memperdulikan diriku lagi. Tidak memperdulikan perasaanku lagi. Aku yang telah merendahkan harga diriku untuk menemuinya. Aku yang telah mencoba untuk menghilangkan ego-ku untuk bertemu dengannya. Aku sudah tidak mampu mengingat apapun lagi. Perasaanku kini telah benar-benar hampa dan terluka. Tangisku tiba-tiba berhenti. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku harus mampu melupakannya. Aku harus mampu untuk menata puing-puing hatiku yang telah hancur untuk menjadi utuh kembali. Dan Lagu Sedih-nya Mulan terdengar dari tape mobilku. Aku melajukan mobilku untuk pulang kerumah. I’ve learned that no matter how bad my heart is broken, the world doesn’t stop for my grief. That’s why I should learn to move on. I believe that people who scare to make a move and change, they are people who afraid to face reality on the future.
Begitu Indahnya Untuk Dikenang
Saat Kamu Masih Mengejar Cintaku
Begitu Manisnya Tangismu Untuk
Memohon Hadirku Kedalam Hidupmu
Katamu Kau Tak Akan Tinggalkan Aku
Sakiti Aku Lukai Aku
Tapi Kau Ternyata Tinggalkan Aku
Sendiri…
Katamu Kau Tak Akan Pernah Duakan
Hatimu… Cintamu…
Kemana Perginya Kamu Yang Dulu
Yang Maunya Selalu Dekat Dengan Aku
Kemana Perginya Cinta Yang Dulu
Yang Pernah Kau Tikam Ke Dalam Jantungku
Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Perasaan rindu yang menggebu tak mampu membuatku untuk berdiam diri. Aku ingin menemuinya. Tanpa disadari aku menyetir mobilku untuk pergi ke rumahnya. Mobilku terhenti tepat di depan rumahnya. Pagar berwarna stainless steel rumah itu tertutup rapat. Mobilnya terpakir rapi di halaman rumahnya. Aku pernah ke rumah itu. Aku pernah memasuki rumah itu. Rumah yang dulu aku singgahi untuk beberapa kali. Aku memarkir mobilku beberapa rumah dari rumahnya. Aku berjalan keluar dari mobilku untuk berdiri agak jauh dari pagar rumahnya. Aku takut orang-orang rumahnya melihat kehadiranku. Aku menekan beberapa digit angka nomor handphonenya dari handphoneku.
“Halo”, suaranya terdengar jelas setelah nada sambung berbunyi untuk beberapa kali.
“H-Halo”, jawabku gugup. “Kamu lagi ngapain?”
“Lagi nonton TV nih. Kamu lagi ngapain?”
“Aku ada di depan rumahmu. Aku pengen ketemu ama kamu. Bisa gak kamu keluar bentar?”
“Kamu ngapain kesini? Kenapa ga bilang-bilang dulu?”, nadanya terdengar gusar.
“Maaf”, jawabku lesu.
“Sorry aku ga bisa temuin kamu. Aku takut kamu bakalan nangis. Aku paling ga tahan liat kamu nangis. Kamu mendingan pulang aja ok? Aku bener-bener ga bisa. Sorry.”
Aku menghela nafas panjang. “Oke. Maaf udah mengganggu kamu”, lanjutku.
Dan entah kenapa langit serasa mengerti kesedihanku. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Aku tetap berdiri disana. Air mataku yang mengalir keluar telah bercampur dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuhku. Aku melihat bayangan dirinya di jendela sedang menatapku. Aku tetap berdiri disana. Ingin kulangkahkan kakiku untuk menjauh dari tempat itu. Namun aku tak mampu menggerakkan kedua kakiku. Aku hanya mampu berdiri di tempat itu sambil menangis. Tiba-tiba handphone ditanganku bergetar dengan nada SMS yang masuk. Aku coba untuk membacanya dengan susah payah karena hujan deras yang membasahi layar handphoneku.
Kamu mendingan pulang deh. Aku ga mau kamu nanti jatuh sakit. Maaf.
Aku sangat mengerti kata-kata darinya di SMS tersebut. Kemudian aku mengerahkan kekuatan penuh untuk menggerakkan kakiku untuk berjalan ke arah mobilku. Bajuku yang telah basah kuyup membasahi jok mobilku. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam mobilku. Aku tak tau telah berapa lama aku menangis di dalam mobilku. Hatiku sudah tidak dapat lagi dilukiskan dengan kata-kata. Hanya perih yang terasa. Hanya sesak yang terasa di dadaku. Hingga tidak aku hiraukan lagi dingin yang menyelimuti seluruh tubuhku. Tiada lagi kehangatannya dalam menyambutku seperti dulu. Dia telah benar-benar berubah menjadi sosok yang tidak kukenal lagi. Dia yang dulu begitu gencar untuk mendekati aku. Dia yang dulu mengucapkan kata-kata manis padaku. Dia yang dulu berjanji ingin membuatku tersenyum setiap hari. Namun dia telah membuatku menangis setiap hari selama sebulan lebih sejak di coffee shop itu. Aku sangat merindukan sosoknya yang dulu yang begitu mencintaiku dan perduli padaku. Namun kini dia sudah tidak memperdulikan diriku lagi. Tidak memperdulikan perasaanku lagi. Aku yang telah merendahkan harga diriku untuk menemuinya. Aku yang telah mencoba untuk menghilangkan ego-ku untuk bertemu dengannya. Aku sudah tidak mampu mengingat apapun lagi. Perasaanku kini telah benar-benar hampa dan terluka. Tangisku tiba-tiba berhenti. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku harus mampu melupakannya. Aku harus mampu untuk menata puing-puing hatiku yang telah hancur untuk menjadi utuh kembali. Dan Lagu Sedih-nya Mulan terdengar dari tape mobilku. Aku melajukan mobilku untuk pulang kerumah. I’ve learned that no matter how bad my heart is broken, the world doesn’t stop for my grief. That’s why I should learn to move on. I believe that people who scare to make a move and change, they are people who afraid to face reality on the future.
Begitu Indahnya Untuk Dikenang
Saat Kamu Masih Mengejar Cintaku
Begitu Manisnya Tangismu Untuk
Memohon Hadirku Kedalam Hidupmu
Katamu Kau Tak Akan Tinggalkan Aku
Sakiti Aku Lukai Aku
Tapi Kau Ternyata Tinggalkan Aku
Sendiri…
Katamu Kau Tak Akan Pernah Duakan
Hatimu… Cintamu…
Kemana Perginya Kamu Yang Dulu
Yang Maunya Selalu Dekat Dengan Aku
Kemana Perginya Cinta Yang Dulu
Yang Pernah Kau Tikam Ke Dalam Jantungku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar