One month later…
Sebulan telah berlalu atas kejadian di coffee shop Excelso tersebut. Masih teringat jelas setiap detail air mata yang mengalir di pipiku. Aku pergi ke Plaza Indonesia untuk sekedar refreshing dan mencari buku untuk bahan presentasiku besok. Aku ingin menghilangkan semua rasa penat yang ada didalam pikiranku. Hingga ketika aku berjalan melewati restoran Courtyard, mataku terpaku menatap kepada sesosok pria di depanku. Wajah yang sangat kukenal. Sosok orang yang mampu meluluh lantahkan segenap jiwa dan perasaanku. Dia adalah orang yang telah membuatku bahagia dan menangis karnanya. Dia adalah orang yang telah meninggalkanku. Kekasihku yang sangat aku cintai. Tapi tunggu dulu. Dia tak sendiri. Di sampingnya berdiri seorang gadis manis yang belum pernah kulihat wajahnya sebelumnya. Gadis itu bukan salah satu temannya. Bukan juga saudaranya. Raut wajahnya terlihat kaget ketika melihatku. Tatapan mata rasa bersalah terpancar dari matanya. Perasaanku bercampur aduk.
“Hai”, sapaku.
“Eh..Hai”, jawabnya dengan kaku.
“Sama siapa?”
“Sa-Sama teman”
Aku melihat gadis itu. Dia hanya tersenyum menatapku dan menatap wajah laki-laki itu dengan pandangan heran. Dia mungkin tau sesuatu. Dia juga mungkin tau siapa aku.
“Oke deh. Aku duluan yah. Bye”, aku berpamit padanya.
Perasaanku sudah tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata lagi. Aku bahkan tak mampu berpikir dengan jernih. Hatiku hancur. Secepat itukah dia telah melupakanku? Padahal kita berpisah baru 1 bulan lamanya. Aku segera berlari ke toilet. Aku menangis didalam toilet. Hatiku terasa sangat perih. Dia yang pernah menyayangiku. Dia yang pernah mencintaiku. Dia yang sangat aku cintai. Dia yang sangat aku percayai. Mengapa begitu tega menghancurkan hatiku hingga seperti ini. Tuhan, tolong berikan kekuatan pada diriku. Aku harus kuat dalam menghadapi semua cobaan yang menimpaku. Aku tak mampu berpikir banyak. Aku hanya mampu menangis dengan lemah. Aku terlihat lemah dan tak berdaya.
Tujuan awalku untuk ke Plaza Indonesia adalah karna aku ingin membeli buku untuk bahan presentasiku untuk meeting di kantorku besok. Besok pagi aku akan memberikan presentasi kepada klien tentang statistik data operating system yang akan launching pada awal bulan depan. Aku sudah tidak memikirkan buku yang aku cari. Aku juga tidak memikirkan presentasi yang akan aku lakukan untuk meeting besok pagi. Yang aku pikirkan untuk saat ini adalah untuk segera pulang kerumah dan mengurung diriku di kamar. Aku hanya ingin menangis hingga aku terlelap tidur. Aku keluar dari kamar mandi yang telah aku masuki setengah jam lamanya. Aku menatap wajahku di cermin. Mataku bengkak dan hidungku memerah. Aku merasa beruntung karna hanya ada seorang cleaning service di toilet ini. Dia menatapku sekilas dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Aku merasa malu pada diriku yang lemah dan tak berdaya. Aku mulai memoleskan bedak pada hidungku supaya warna merahnya dapat tersamarkan. Dan aku berjalan keluar untuk segera pulang kerumah.
Aku menguatkan diriku untuk tidak menangis di mobil dalam perjalanan pulang. Aku gak mau papa mama di rumah melihatku menangis. Aku tak mau membuat mereka mengkhawatirkanku. Hanya beberapa linangan air mata mengalir keluar dalam perjalanan pulangku. Aku menghapus beberapa tetes air mata di sudut mataku. Papa dan mama yang sedang menonton TV di ruang tamu tidak menyadari bahwa aku sedang merasa sedih. Karna aku tersenyum kepada mereka.
“Udah pulang sayang?”, tanya papa kepadaku.
“Iya nih pa. Nih lagi mau kerjain presentasi buat meeting besok”, aku berbohong kepada papa.
Kemudian aku berjalan memasuki kamarku dan menguncinya agar tidak ada orang yang masuk.
Aku benar-benar ingin menyendiri. Aku membenamkan wajahku ke bantalku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupku. Aku mengingat awal pertemuanku dengannya hingga aku jatuh cinta kepadanya.
“Aku mencintai kamu Nadya. Aku takut kehilangan kamu. Aku mohon kamu jangan pernah meninggalkan aku yah?”
Kata-katanya masih teringat jelas dalam pikiranku. Aku juga ingat kejadian di Excelso sebulan yang lalu ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
Aku…masih sangat mencintainya. Namun ia telah melupakan semua tentang kita secepat ini. Dia telah melupakanku ketika aku bahkan belum mampu untuk berhenti menangis selama sebulan ini. Aku harus melupakannya. Dan aku pun tertidur dalam tangisku. Aku merasa teramat lelah. Lelah atas apa yang telah terjadi dalam hidupku. Lelah akan air mata yang terus mengalir keluar dari kedua bola mataku. Aku hanya ingin tidur tanpa memikirkan apapun.
Aku percaya bahwa ketika seseorang memberikan kamu seribu alasan untuk menangis, maka dunia akan memberikan kamu seribu alasan ‘tuk tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar