“Ada sesuatu yang pengen aku omongin ama kamu”, dia berkata dengan nada datar serta tatapan mata yang tajam menghujamku. Dia duduk di hadapanku. Dia terlihat begitu dingin dengan raut wajah yang seperti itu. Wajahnya tampak pucat seperti sedang menahan sesuatu. Aku tidak pernah melihat raut wajahnya yang seperti itu sebelumnya. Selama ini tatapan matanya selalu terlihat hangat ketika menatapku. Dia terasa sangat berbeda membuatku seperti tidak mengenalinya.
Aku hanya duduk terdiam tanpa berani menatap ke dalam bola matanya yang tampak tajam dan membesar. Aku tertunduk sambil memainkan gelas yang berisi Blossom Freeze yang kupesan. Hari itu Excelso tampak tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Kemudian salah satu pelayan datang menghampiri meja kami sambil menyodorkan buku menu kepadanya dan berkata “mau pesan apa, pak?”
“Saya mau Iced Chocolate satu yah”, jawabnya sambil mengembalikan buku menu kepada pelayannya setelah ia melihat-lihat sekilas ke dalam buku menu tersebut.
Dia tidak suka minum kopi sama seperti aku. Aku sangat mengetahui selera minumannya. Dia suka minuman yang manis, berbeda denganku yang tidak terlalu suka minuman manis. Makanya aku selalu memesan Blossom Freeze yang merupakan campuran yoghurt, strawberry, dan jeruk. Minuman itu terasa tidak terlalu manis dan sedikit asam. Sangat segar dan nikmat. Aku mencoba menyeruput minumanku sedikit.
“Aku merasa hubungan kita semakin berbeda sekarang. Aku terus memikirkannya setiap malam. Aku memikirkan tentangmu. Dan….”, kata-katanya terputus. Dia menundukkan wajahnya sebentar kemudian menatapku kembali. Mencoba untuk memperhatikan reaksiku.
“Trus?”, tanyaku datar.
“Aku merasa takut untuk melanjuti hubungan ini. Kamu adalah cewek terbaik yang pernah aku temui. Tapi aku ga pengen bikin kamu sedih lagi. Aku merasa kalau selama ini aku banyak menuntut dan juga melarang kamu. Makanya aku pikir lebih baik kita berpisah saja. Aku gak mau kecewain kamu lagi”
Dia masih menatapku setelah melontarkan kata-kata tersebut. Terlihat sesal pada raut wajahnya. Matanya menyiratkan duka. Dia tampak berat untuk melakukan semua ini. Tapi aku tidak tau pasti apa yang membuatnya ingin mengakhiri semua ini. Dia masih menunggu reaksiku.
“Aku mengerti”, jawabku setelah terdiam sekian lama. Perasaanku bercampur aduk. Hatiku terasa perih, namun jiwaku terasa hampa dan melayang. Kepalaku terasa pening bagaikan terhantam sebuah kayu. Namun aku coba untuk bersikap tenang. Meskipun hatiku meronta-ronta mengatakan TIDAK dan menolak dengan keras. Tapi reaksi yang aku tampilkan tidak seperti apa yang ada di dalam hati. Aku terlihat lebih tenang setelah beberapa hari sedikit uring-uringan mencium gelagat yang tidak baik pada apa yang akan terjadi. Aku terlihat lebih siap.
“Maafin aku…Maaf kalo selama ini aku hanya bisa membuat kamu sedih dan menangis…Aku ga mau melihat kamu bersedih lagi…Aku sorry banget…”, dia mencoba menggenggam tanganku dan menatapku dengan dalam. Wajahnya terlihat sendu, tapi aku yakin ini lah yang terbaik untuk dirinya.
“Don’t say sorry. Kamu ga salah kok. Aku bisa ngertiin keputusan kamu kok”, aku tersenyum padanya.
“Aku justru mau berterima kasih kepadamu”, lanjutku.
“Terima kasih? Kok terima kasih?”
“Terima kasih atas segalanya”, aku tersenyum dengan tulus. Aku mencoba untuk menahan air mataku yang hendak mengalir keluar. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuknya. Aku tidak ingin membuatnya didalam posisi sulit. Aku ingat pepatah yang pernah kubaca dalam sebuah email yang berkata: Ketika seorang lelaki tidak menginginkanmu, tak ada satu hal pun yang mampu membuatnya untuk tinggal. Namun ketika seorang lelaki menginginkanmu, tak ada satu hal pun yang mampu membuatnya pergi. Kata-kata itu tertanam jelas dalam pikiranku.
“Beberapa hari ini aku juga udah banyak berpikir…”, lanjutku. “Maka dari itu aku ingin berterima kasih. Terima kasih telah mengajari aku mencintai dengan tulus. Karna kamu, aku jadi mengerti arti cinta sejati sesungguhnya. Karna kamu, aku juga belajar untuk memaafkan. Tanpa kamu minta maaf pun, aku sudah memaafkan kamu. Aku justru merasa bahagia bahwa aku pernah mengenalmu. Thanx ya”, aku tersenyum meskipun hatiku terasa sakit saat mengucapkan kata-kata barusan.
“Oke. Thanx. You’re so nice. Aku percaya bahwa seseorang yang menjadi pasangan kamu kelak adalah orang yang sangat beruntung. Maaf kalo bukan aku orangnya. Aku permisi dulu yah. Selamat tinggal”, ujarnya sambil melepaskan genggaman tangannya dan berdiri dari tempat duduknya.
“Selamat tinggal”
Dan dia pun berlalu dari hadapanku. Dan dia melangkah keluar dari kafe ini. Dan dia telah berlalu dalam hidupku. Dan aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Dan aku menatap punggungnya yang makin menjauh dari tempatku duduk. Hingga dia menghilang di balik kerumunan orang-orang yang sedang berlalu lalang di jalanan depan kafe. Dia telah benar-benar hilang dari pandanganku yang terus menatap ke arah kerumunan tersebut. Tanpa terasa air mata yang telah tertahan di sudut kedua bola mataku akhirnya tertumpah keluar. Aku tak ingin dia melihatku menangis. Bila aku menangis didepannya, maka aku akan membuatnya dalam posisi yang sulit. Aliran hangat air mata telah menjalari kedua pipiku. Aku tak perduli dengan pandangan pengunjung-pengunjung serta para pelayan sekitar yang menatapku dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Aku tidak menangis meraung-raung. Hanya air mata yang mengalir keluar tanpa henti. Aku mencoba untuk menghentikannya. Namun tampaknya sinyal otak yang kuberikan untuk kedua bola mataku tidak bekerja untuk saat itu. Perasaanku hampa. Pikiranku kosong untuk seketika. Hatiku bagaikan tersayat-sayat. Sakit!! Dadaku terasa sesak. Aku tak mampu bernafas. Aku juga tak mampu berpikir banyak setelah kepergiannya. Tiba-tiba aku merasakan ketakutan serta kebingungan. Apa yang harus kukatakan kepada keluarga dan teman-temanku. Lalu apa yang harus kulakukan bila bertemu dengannya suatu saat nanti. Bagaimana caraku menjalani hari-hariku selanjutnya tanpa dia, tanpa kehadirannya.
Kata demi kata yang pernah terucap dari bibirnya terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku. Pikiranku menari-nari untuk mengingat kembali ke masa kebersamaan kami. Mungkin memang ini semua salahku karna aku terlalu mencintainya. Hingga aku mengenyampingkan semua impian dan hidupku demi dirinya. Aku menyadari arti dari mencintai. Ketika aku mencintainya, aku hanya mampu melihat dia yang kucinta tanpa memandang siapa dia dan dari mana dia berasal. Mencintai bukan berarti harus memiliki. Yang terpenting adalah melihat orang yang kita cintai bahagia dan tersenyum. Sayup-sayup terdengar iringan lagu Bye Bye-nya Mariah Carey sedang diputar. Aku menghela nafas panjang dan tersenyum. Hari-hariku akan terasa berbeda mulai saat ini tanpa dia.
Dan aku pun bangkit dari tempat dudukku dan melangkah keluar dari kafe Excelso dengan secercah harapan-harapan baru yang menantiku di luar sana.
Aku percaya bahwa matahari akan bersinar setelah hujan turun membasahi dunia. Dan aku memahami bahwa mencintai bukanlah bagaimana caranya kamu melupakan, namun bagaimana caranya kamu memaafkan. Bukan juga bagaimana caranya kamu mendengarkan, namun bagaimana caranya kamu mengerti. Bukan pula apa yang kamu lihat, tapi apa yang kamu rasakan. Dan bukan juga bagaimana caranya kamu membiarkannya pergi, tapi bagaimana caranya kamu bertahan…
This is for my peoples who just lost somebody
Your best friend, your baby, your man, or your lady
Lift your head way up high
We will never say Bye…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar