Minggu, 10 Juli 2011

Dia, petunjuk dari Tuhan yang selalu kusangkal

Aku bertemu dengan Matthew secara tidak sengaja. Siang itu aku janji ketemuan dengan teman-temanku. Aku baru saja patah hati karena putus dengan kekasihku, Nathan. Sehingga aku coba untuk bersosialisasi kembali dengan teman-teman lamaku. Dan disana ada beberapa sosok pria yg tidak aku kenal. Teman-temanku memperkenalkan kepadaku. "Hai, aku Matthew", ucapnya saat itu. "Nadya", jawabku. Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Sombong pikirku. Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya saat itu. Beberapa hari kemudian ketika aku sedang online YM, dia meng-invite aku di YM. "Hai masih inget gue?", dia tiba2 mengajakku chatting via YM. Si pria sombong waktu itu pikirku. "Masih", jawabku. Tapi aku mengaggumi avatar dia pada saat itu, gambar seekor anjing shihtzu yang lucu. Aku tak kuasa untuk menanyakan "Anjing lo yah? Namanya siapa?". Dia menjawab "Iya, namanya Brownie". Seketika itu juga aku teringat akan kue brownies yang lezat. Setelah itu dia mulai mengajakku ngobrol panjang lebar. Ternyata dia tidak sesombong ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Kemudian dia berkata, "Boleh minta nomor handphone lo ga? Gue lagi mau pergi ke gereja bentar lagi". Kemudian aku memberikan nomor handphoneku kepadanya.
*****
Hari berganti hari, hubunganku dengan Matthew semakin dekat. Dia mencoba menghiburku ketika aku masih merasa sedih atas kehilangan seseorang yang aku cintai, Nathan. Matthew selalu menemaniku dikala aku sedih. Dia menemani ketika aku harus menjalani operasi gigi gerahamku yang tidak tumbuh keluar. Dia mencoba menghiburku ketika aku merasakan sakit sehabis operasi. Dan ketika aku merasa malu untuk berkaca karena pipiku yang bengkak. Setiap kali berkaca aku suka menangis dan merasa sedih karena mukaku terlihat jelek sekali. Namun Matthew berkata "Kamu tetap keliatan cantik kok". Aku tersenyum ketika itu. Aku tau dia cuma berusaha menyenangkanku. Dia adalah pria yang sangat baik. Sebulan setelah kedekatan kita, Matthew coba untuk menyatakan cintanya kepadaku dan memintaku menjadi kekasihnya. "Nadya, aku sayang ama kamu. Will you be my girlfriend?". Aku hanya bisa terdiam. Aku belum bisa melupakan Nathan. "Sorry Matt, kamu orangnya baik banget. Tapi aku belum siap untuk memulai hubungan yang baru. Aku masih belum bisa melupakan Nathan", jawabku. "Gak papa Nad. Aku rela kok jadi pelarian kamu sampe kamu bisa melupakan Nathan", dia menatap mataku dalam-dalam. Bodoh!! Pikirku dalam hati. Kenapa dia begitu bodoh mau jadi pelarianku? "Sorry Matt, tapi aku bener-bener ga bisa. Ini ga akan adil buat kamu. Aku ga mau menyakiti kamu. Sorry Matt aku ga bisa. Kita tetap temenan aja ya?". Dia hanya mengangguk lemah. Aku tau hatinya sedih, tapi aku cuma tidak ingin menyakiti hati orang sebaik Matthew.
*****
Matthew masih tetap mendekatiku. Ketika aku sakit, dia datang kerumahku membawakan buah-buahan dan vitamin. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Ketika aku ada acara kantor di daerah yang sangat jauh dari rumahnya, perlu sekitar 1,5jam untuk sampai ketempat itu, dia datang menjemputku pulang ketika dia menelepon dan tau aku tidak ada yang mengantar pulang. Dia hanya khusus datang untuk menjemputku pulang kerumah. Oh baiknya dia. Berulang kali dia memintaku untuk menjadi kekasihnya, dan setiap kali pula aku menolaknya. Ketika aku berulang tahun, secara diam-diam dia mencari tau nomor telepon rumahku yg entah dari mana dia dapatkan. Dia menelepon mamaku untuk memberitahukan bahwa dia ingin membikin surprise untukku. Siang itu aku sedang merasa kesal dengan Matthew. Ini hari ulang tahunku tapi dia bersikap biasa aja. Ketika aku mengajaknya untuk pergi makan bersama teman-temanku untuk merayakan ulang tahunku, dia menolak. Aku merasa kesal sekali dengannya ketika itu. Dan saat aku sedang pergi makan dengan teman-temanku untuk merayakan ulang tahunku, mamaku meneleponku untuk segera pulang kerumah. Aku bingung kenapa dari nadanya terkesan memaksa. Padahal aku sedang merayakan ulang tahunku dengan teman-temanku. Ah mamaku ini mengganggu kesenanganku saja. Aku pulang kerumah dengan rasa jengkel. Ketika aku sampai didepan rumah, aku liat rumahku gelap gulita. "Duh aku udah cepat2 pulang kerumah tapi kenapa udah pada tidur sih? Aneh!", pikirku dalam hati. Kemudian aku berjalan masuk ke dalam rumahku dan menuju ruang tamu. Tiba-tiba ada yang menyanyikan lagu Happy Birthday buatku. Dan itu adalah Matthew yang sedang memegang sebuah kue kesukaanku, strawberry cheesecake, beserta lilin2 yang menyala. Aku sangat terharu dan merasa malu karena sempat kesal dengannya yang tidak mau merayakan hari ulang tahunku dengan teman-temanku. Padahal ternyata dia telah menyiapkan kejutan di hari ulang tahunku. Kemudian dia memberikanku kado sebuah ipod video berwarna putih. Ahh itu barang yang sedang aku inginkan. Ya Tuhan Matthew begitu baik kepadaku. Sosoknya yang tinggi dengan wajah yang mendukung, aku yakin banyak sekali wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Beberapa temanku memuji wajahnya yang ganteng. Dan mereka kerap menanyakan padaku kenapa aku tidak mau jadi kekasihnya, karena apabila mereka yg jadi aku maka mereka akan mau menjadi kekasihnya. Aku bingung. Apa yang salah denganku? Aku menyukai Matthew, tapi perasaan itu hanya sebatas itu saja. Aku ga bisa mencintainya seperti aku mencintai Nathan. Padahal Matthew sangat baik dan dia mencintai aku apa adanya. Aku masih mencintai Nathan dan tidak bisa melupakan sosok Nathan sedetikpun. Meskipun dia telah meninggalkanku dan menyakiti hatiku.
*****
Setelah beberapa bulan, tiba-tiba Matthew bilang kepadaku "Nadya, aku mimpi kamu lari menjauh dariku. Dan setiap kali aku mengejarmu dan berusaha menangkapmu, kamu berlari semakin cepat dan menjauh. Aku udah merasa cape dengan keadaan begini. Aku menyerah Nad. Aku cuma mau menanyakan untuk terakhir kalinya maukah kamu menjadi kekasihku? Bila jawabanmu tidak, maka aku akan berhenti mengejarmu mulai saat ini. Dan aku akan menjauh darimu". Aku merasa sedih dengan perkataannya. Aku takut kehilangannya. Tapi aku tidak bisa menjadi kekasihnya. Aku sungguh dilema. Aku tidak bisa membohongi perasaanku untuk berpura2 mencintainya. Aku ga mau dia cuma jadi pelarian dikala hatiku berasa hampa. "Maaf Matt, aku sungguh2 minta maaf aku ga bisa. Mungkin ini terakhir kali kita bertemu. Terima kasih atas segala kebaikanmu. Jaga dirimu baik-baik", jawabku. Tanpa kusadari air mataku menetes. Aku sedih membayangkan aku kehilangan seseorang sebaik dirinya. Tapi aku juga tidak bisa merasa egois untuk menahannya. Karena aku ga bisa memberikan dia harapan terus2an. Matthew terlihat kecewa dan sedih. Dia berkata "Oke kalau itu maumu Nad. Aku akan menjauh pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Kamu juga jaga dirimu baik-baik yah"
*****
Seminggu berlalu dari hari itu. Aku merasa sedih kehilangan Matthew. Aku bingung dengan perasaanku. Kemudian aku coba berdoa dalam hati "Tuhan apabila Matthew adalah jodohku, tolong kasih aku petunjuk". Satu jam kemudian tiba-tiba Matthew datang kerumahku. Aku merasa kaget. Sudah seminggu aku tidak mendengar kabar darinya tiba-tiba dia datang kerumahku. Aku merasa sangat bahagia, tapi aku berusaha terlihat biasa saja. Gengsi. Kemudian kita bercanda-canda seperti biasanya. Tiba-tiba aku bertanya "Kok tumben kesini? Emang habis dari mana?". Dia menjawab "Aku tadinya mau pergi sama teman-temanku. Pas lagi di jalan tiba-tiba aku dapat bisikan kalo aku harus kerumah kamu sekarang. Aku juga ga tau kenapa. Aku merasa itu kayak pertanda dari Tuhan". Aku cuma bisa bengong. Apakah mungkin dia jodohku? Apakah ini jawaban dari Tuhan. "Hmmm..sebenernya sebelom kamu kesini aku sempat berdoa minta petunjuk dari Tuhan kalo kamu bener jodohku", jawabku. Dia terdiam untuk beberapa saat dan akhirnya berkata "Nad, aku yakin kalo kita jodoh. Aku sering dapat sign dari Tuhan kalo kamu adalah jodohku. Yg tadi itu paling kuat. Rasanya kayak ada yang bisikin aku kalo aku harus ketemu kamu sekarang juga. Aku juga ga tau kenapa. Apa kamu percaya Nad?". Aku hanya bisa menarik nafas panjang. "Aku bingung Matt. Aku ga tau", aku hanya bisa menjawab itu. "Nad, aku mo coba lagi untuk mendekatimu. Kasih aku kesempatan lagi", pintanya. Aku hanya mengangguk. Didalam hati aku terus bertanya kepada Tuhan apakah benar semua pertanda yang serba kebetulan ini? Dan disaat yang bersamaan aku juga menyangkal dan berpikir ini cuma kebetulan aja.
*****
Matthew berulang tahun. Aku memberikannya sebuah jam tangan. Dia terlihat sangat senang. Dan aku tetap saja masih menolaknya berulang kali. Tapi segala cara dia lakukan untuk menjadi kekasihku. Dia pernah berlutut dihadapanku memohon untuk menjadi kekasihku. Hingga akhirnya aku bilang kepadanya coba untuk menanyakan sama orang tuaku. Kemudian suatu ketika dia ngomong dengan orang tuaku untuk meminta ijin dari mereka untuk menjadi kekasihku. Sebuah hal berani yang dilakukan seorang pria. Berulang kali teman baikku mencoba meyakinkan aku bahwa Matthew adalah sosok yang tepat untukku. Matthew begitu mencintaiku hingga melakukan segala hal dan pengorbanan untuk diriku. Tetapi aku tetap berargumen dengan temanku dan menyangkalnya. Ga mungkin Matthew adalah jodohku. Temanku merasa sangat kesal denganku, dia berkata "Ya sudah terserah kamu. Jadi apa itu pertanda dari Tuhan? Kamu masih ga percaya? Kelak kamu jangan menyesal kalo dia benar2 mundur dan menjauh darimu". Aku tidak memperdulikan peringatan temenku. Aku mau pria yg lebih tua untuk menjadi kekasihku. Matthew seumuran aku. Itulah alasan kenapa aku ga bisa merasa yakin dengannya.
*****
Matthew sudah menjauh dariku. Kali ini dia benar-benar sudah menyerah. Sudah sebulan dia tidak mencariku. Biasanya seminggu saja dia sudah mencariku lagi. Ah mungkin dia sudah tidak menyukaiku, pikirku dalam hati. Tadinya kupikir dia akan mencariku seminggu setelahnya. Tapi ini udah sebulan dan dia tidak mencariku. Aku merasa gengsi untuk mencarinya duluan. Biar aja dia tidak mencariku, dia mungkin tidak serius denganku, pikirku dalam hati. Berbulan-bulan telah berlalu. Matthew benar-benar sudah hilang dari kehidupanku. Mungkin petunjuk dari Tuhan waktu itu tidak benar. Buktinya dia sudah menjauh pergi dari hidupku. Hingga suatu hari Matthew meneleponku. Aku kaget setengah mati. "Halo", ucapku. "Hai Nadya, apa kabar?", tanyanya. "Baik. Kamu apa kabar?", tanyaku balik. "Baik juga Nad. Gimana kerjaan kamu? Besok aku mampir yah kekantormu", ucapnya. "Oke", jawabku. Ada apa dia tiba-tiba meneleponku dan ingin datang ke kantorku? Dia tidak pernah tiba-tiba ingin datang ke kantorku.
Keesokan harinya Matthew benar-benar datang ke kantorku dan mengajak aku lunch di mall dekat kantorku. Kita mengobrol seperti biasa namun lebih kaku. Karena sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Dia masih memakai jam tangan pemberianku. Tuh kan dia masih datang mencariku. Walopun yang kali ini sudah berbulan-bulan. Aku merasa bahagia ketika itu. Tapi dengan gengsi aku menunjukkan sikap yang biasa-biasa saja. Ah nanti juga kita dekat lagi seperti dulu, pikirku dalam hati. Ternyata pikiranku salah. Dia sama sekali tidak mencariku lagi. Berulang kali aku berusaha untuk mencarinya namun ego ku berkata kalau dia benar-benar menginginkan aku, dia pasti mencariku lagi. Dia harusnya bisa mencoba lagi. Mungkin aku akan berubah pikiran. Namun dia tidak pernah mencariku. Hingga sebulan berlalu aku melihat di salah satu situs jejaring sosial kalau dia sudah punya pacar. Kemudian aku mulai bertanya-tanya dalam hati kenapa terakhir kali dia masih mencariku padahal dia sudah dekat dengan wanita lain. Begitu mudahnya bagi dia sudah mendaptkan pengganti. Ah lelaki dimana-mana sama aja. Kupikir waktu itu dia mencariku lagi karena dia ingin mencoba lagi. Aku merasa kesal dan cemburu ketika mengetahui dia sudah punya pacar. Beberapa bulan berlalu, aku coba untuk melihat kembali situs jejaring sosialnya, aku melihat foto-foto dirinya dengan sang kekasih. Dia masih memakai jam tangan pemberianku. Aku merasa menyesal mengapa aku terlalu gengsi untuk mencarinya dan menyia-nyiakan semua kebaikannya. Sekarang dia sudah benar-benar pergi dari hidupku, aku baru merasa menyesal. Berbahagialah wanita yang menjadi kekasihnya. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan itu. Dan air mataku bergulir dari kedua bola mataku.
*****
Sudah 2,5 tahun berlalu, aku masih menyimpan penyesalan. Dan aku sungguh menyesal tidak pernah meminta maaf kepada Matthew betapa aku telah jahat dan menyia-nyiakan dirinya. Selalu menyangkal petunjuk dari Tuhan. Aku coba untuk melihat situs jejaring sosial miliknya. Dia masih berpacaran dengan wanita itu. Dan di foto2 barunya dia masih memakai jam tangan pemberianku! Sudah 3 tahun aku memberikan jam tangan itu kepadanya. Dan dia masih memakainya. Andai saja aku dapat memutar kembali waktu, aku ingin memberitahunya bahwa betapa berartinya dia dalam hidupku. Betapa aku menyesal telah menyia-nyiakan dirinya dan tidak pernah menghargai semua pengorbanannya. Betapa aku ingin meminta maaf kepadanya, namun selalu kuurungkan niatku. Memang penyesalan selalu datang terlambat. Bila memang dia adalah petunjuk dari Tuhan bahwa dia adalah jodohku, maka seharusnya kami akan bertemu di saat yang tepat. Aku menyesal. Mungkin aku memang tidak pantas untuknya. Hati kecilku selalu bertanya soal petunjuk dari Tuhan yang terlihat begitu nyata ketika itu. Maafkan aku Matthew. Maaf....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar