Senin, 24 Oktober 2011

October and it's been a year...

and time flies by so fast...

It's almost been a year since that day. The day i had realize that I'd this painful heart that no one can truly understand how it feels. If you were me then you would know how does it feels. But if u were not me, then you better be quiet. I still keep this hate and revenge in my heart. Yeap i will never forget and forgive for what had happened a year ago. But my life is happy now. I keep pray to God to say how thankful i am for being released from it. I feel glad today that i don't need to cry or feel the pain in my heart anymore. I can breathe, I can laugh, and I can do all the fun things that i've done this year. I feel so alive. Doing the travelling just with my bestie, meeting new guys, to be loved, got lost when do the travelling, do something stupid when we were really tired, make friends with other people from other countries, getting drunk, and do clubbing for more than 5 times (this is hit the record of mine that i just usually do clubbing once a year). It's a good and happy life. Collecting more branded bags and golds. I've got iPhone 4G on last december 2010. Called off the wedding is like a blessing to me. I can get all things that i like and i dream. I don't need to worry nor fell asleep in pain. It's the greatest decision I'd ever made. So that today i can smile happily. Praise the Lord for blessing me and my family for each day...

Lesson to learn: everything happens for a reason and behind every pain there's a good moment waitings ahead. Sunshine will exists after the rain. And this too shall pass...

Selasa, 02 Agustus 2011

Balenciaga lovers

Me and my friends are balenciaga lovers...we used our bal bag when we were hang out at last friday night to watch Harry Potter last episodes, Harry Potter and the deathly hallows part 2. We used different kinds and colors of bal.






Miss J with Velo ardoise CGH, Miss L with PT blue roi SGH, and me with Brief anthra SGH


Selasa, 19 Juli 2011

Bullet charm for my Alexander Wang Rocco black/brass

The first time i was craving for AW rocco because i saw the picture of MK in website and i was thinking i should have that bullet bag. Yeahhh the bottom studs that look alike bullet really makes me fall in love. I love to play airsoft gun, that's why i love gun and bullet. I can't stop thinking about this bag the first time i saw this bag. Since in my country, AW is not so popular and not all people know this cool bag. It took years for me finally to have this baby in my closet. Then i came up with this idea "why don't i put a real bullet as my AW bag's charm?" . And here it goes....








Rabu, 13 Juli 2011

my passion for photography

i love taking photo and being shot. and i love photography so much. Here i share to you guys the pictures that i took and edited.













Minggu, 10 Juli 2011

Session 8 - Loving You Is Hurt Sometimes…

Aku sudah berada di kamarku. Aku masih mengingat bayangan Rain di taman tadi. Hatiku perih. Aku sudah tidak dapat menghitung berapa lama aku menangis. Air mataku tetap mengalir tiada henti. Aku tahu Rain pasti sangat sedih dan benci padaku. Tapi tahukah kamu bahwa aku lebih menderita. Sangatlah menyakitkan bahwa kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai terutama jika orang tersebut juga mencintai kita. Hatiku pilu.


I couldn’t possibly be a medicine to cure your wound

I could only be a tissue to wipe off your tears

I couldn’t possibly be a person who take care of you

I could only be the one who pray for your happiness

I hope you will be happy, Rain… With or without me…


*****

“Vi, please kasih tahu gue apa yang terjadi dengan Nadya? Gue coba hubungin ke handphonenya tapi ga aktif dari semalem habis dia pergi ninggalin gue”, Rain bertanya kepada Viona. Terdengar nada kesal dari pertanyaan Rain.


“Hah? Emang kenapa ama Nadya? Aku udah 3 hari ga kontek-kontekan ama dia. Kenapa Nadya?”, Viona bertanya dengan cemas.


“Gue juga ga tahu, Vi. Kemarin gue abis pergi dinner ama dia. Trus dia ajak gue ke taman. Dia ajak gue main hide and seek. Trus tiba-tiba dia menghilang. Gue coba hubungin handphonenya, tapi ga aktif.”


“Haha…lo berdua kayak anak kecil aja masih maen begituan.”


“Vi, gue ga bercanda. Gue udah coba nelpon dia dari kemarin tapi ga aktif.”


“Lo udah coba kerumahnya belum?”


“Belum vi. Gue udah ga bisa mikir lagi. Dia kemarin kasih gue surat suruh gue lupain dia. Gue kesel banget. Halahhh gue bener-bener ga ngerti ama jalan pikiran dia. Kemarin padahal pas dinner masih baik-baik aja”, Rain mendengus kesal.


“Bentar gue coba telepon dia deh”


Kemudian Viona menelepon Nadya dengan handphonenya.


“Ga aktif. Gue coba telpon kerumahnya deh”


“See I told you”


“Halo, Nadya nya ada?”, Viona berbicara melalui handphone-nya.


“Ok. Tar tolong bilangin ke Nadya kalo Viona cari dia. Makasih yah mbak”

“Kata pembantunya si Nadya udah pergi dari pagi”, ucap Viona ke Rain setelah mematikan handphone-nya.


“Terakhir dia ada ngomong apa ama lo?”


“Ga ada tuh. Lo tenang aja Rain. Tar kalo dah bisa hubungin dia, gue bakal kasih tau lo”, ucap Viona berusaha menenangkan Rain.


“Ok thanx yah vi”

*****


Aku dan Nathan sedang berjalan-jalan ke sebuah mall besar di Jakarta yang baru selesai dibangun. Nathan mengajakku kesana untuk mencari barang-barang keperluan menikah kita nanti. Nathan mengajakku ke sebuah toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan kami yang akan dilangsungkan dalam 6 bulan mendatang. Ketika sedang memilih dan mencoba-coba cincin di sebuah toko diamond ternama, tak sengaja aku melihat ke arah luar toko. Dan aku melihat Rain sedang bersama teman-temannya melintasi toko tersebut. Aku buru-buru menundukkan kepalaku. Aku berharap Rain tidak melihatku. Semoga saja dia tidak melihatku. Setelah menunduk untuk beberapa menit, aku mencoba untuk mengarahkan pandanganku keluar toko tersebut. Fiuuuhhh Rain sudah tidak ada disana. Aku menghela nafas lega.

“Kenapa yank?”, Tanya Nathan dengan tatapan bingung.

“Ng.. gak papa. Aku suka yang ini. Bagus ga?”, aku mencoba mengalihkan Nathan dengan menyodorkan salah satu cincin dengan bentuk simple namun terlihat elegan. Cincin polos setebal setengah senti dengan batu berlian bermata satu.

“Bagus. Ya udah kita ambil yang ini aja yah”, jawab Nathan.

“Dan dalam 6 bulan ke depan maka kamu akan menjadi Nyonya Fernando”, lanjutnya sambil tersenyum.

Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya.

****


“Oke sayang sampai ketemu besok yah”, Nathan mengecup keningku ketika aku turun dari mobil. Dan mobilnya melaju pergi hilang dari pandanganku.


Aku berusaha membuka pagar rumahku dan tiba-tiba dikejutkan oleh suara yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku hampir menjatuhkan kunci rumahku.


“Siapa dia?!”, Rain terlihat murka. Tatapan kebencian terpancar di matanya.


“Eeh…bukan siapa-siapa. Kamu kenapa tiba-tiba muncul di rumahku?”, aku bertanya balik tanpa menghiraukan pertanyaannya.


“Menurut kamu kenapa aku begitu? Kamu tiba-tiba ninggalin aku di taman malam itu. Trus aku berusaha buat hubungin handphone kamu juga ga pernah aktif. Tahu ga berapa banyak sms dan voicemail yang aku kirim ke handphone kamu? Tahu ga sudah berapa malam aku nunggui kamu didepan rumah kamu. Tapi baru hari ini aku bisa ketemu ama kamu secara langsung. Sekarang kamu masih tanya kenapa aku kesini tiba-tiba?”, Rain mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal.


“Maaf…aku pikir kamu udah mengerti…”


“Kamu mau aku ngerti apa? Kalo kamu ama cowok yang tadi itu? Kamu coba permainin aku yah selama ini?”, Rain mencengkeram lenganku dengan kasar. Terlihat tatapan amarahnya. Air mata terlihat mengambang di matanya.


“Rain…sakit…please”, aku memohon kepada Rain. Belum pernah kulihat ia semarah ini. Yang kutahu Rain adalah sosok pria lembut dari pertama aku mengenalnya. Tapi aku tahu ini semua salahku. Aku yang membuatnya jadi begini.


Dia melepas cengkeraman tangannya pada kedua lenganku.


“Jawab aku Nad… Sejujurnya apakah kamu mencintaiku?”, Rain bertanya dengan putus asa.


Aku hanya bisa terdiam. Aku berusaha terlihat setenang mungkin. Bagaimana mungkin aku bisa tega melihat seseorang yang aku sayangi berdiri didepanku dengan kondisi yang terlihat kacau; rambutnya berantakan dan tatapan matanya terlihat sendu.


“Kalau aku mencintaimu, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu. Selamat malam”, jawabku sambil menatap Rain. Dia terlihat kaget dengan jawabanku. Kemudian aku membalikkan badanku untuk membuka pintu.


Aku sesegera mungkin untuk masuk ke dalam rumahku. Rain masih berdiri mematung disana. Aku segera berlari masuk ke dalam kamarku. Dan tangisku pecah.


Maafin aku Rain…Maafin aku. Aku ga tau lagi apa yang harus aku lakukan. Maaf apabila aku sangat menyakitimu. Asal kamu tau, hatiku lebih perih melihatmu terluka. Tapi ini jalan terbaik bagi kita berdua. Seenggaknya ini jalan terbaik untuk saat ini menurutku.


Air mataku tak mau berhenti mengalir. Sudah 15 menit berlalu dan aku masih menangis di dalam kamarku. Sungguh menyakitkan bila kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai. Bisakah cinta menjadi hal yang mudah tanpa kesedihan?


Aku mulai berjalan untuk mengintip ke arah luar jendela. Rain masih berdiri mematung disana. Dia tidak bergerak sama sekali. Dia berdiri dengan tatapan mata lurus. Aku berharap aku bisa menghampiri dan memeluknya. Tapi….tak ada yang bisa kulakukan untuk saat ini. Maaf…


Gerimis hujan mulai turun. Rain tetap berdiri disana. Ya Tuhan aku tak sanggup untuk melihatnya dibasahi hujan seperti itu. Hujan turun semakin deras dan dia masih berdiri disana tidak bergeming. Aku tak sanggup melihat pemandangan memilukan seperti ini. Kemudian aku bergegas ke tempat tidur dan berusaha memejamkan mataku.


*****

Two weeks later…


Sudah lama aku tidak membuka e-mail ku. Aku mencoba untuk membuka e-mail ku untuk mengecek pesan masuk karena aku telah mengganti nomor ponselku dan Cuma keluargaku dan Nathan saja yang tau. Aku tidak memberi tau semua teman-temanku termasuk teman baikku, Mori. Sudah hampir sebulan aku tidak berbicara dengannya. Aku ingat pembicaraan terakhir kita yang membuatnya murka. Ada beberapa pesan masuk dari teman-temanku. Dan kulihat salah satunya dari Viona. Ah Viona…Aku memang menghindari gadis itu. Dia pasti sangat marah denganku sama seperti Mori. Apalagi dia yang mengenalkan aku kepada Rain. Kulihat judul e-mail nya IMPORTANT!!! dan dikirim seminggu yang lalu. Aku coba membuka pesan masuknya:


Rain sudah meninggalkan jakarta kemarin malam. Gue ga tau apa yang terjadi ama lo dan gue berharap lo ga pernah menyesalinya.


- Mori -


Aaahhh tentu saja aku akan menyesalinya, Mor. Aku pasti menyesal telah melepaskan kebahagiaan yang telah hampir kuraih. Tapi ya sudahlah.


Aku tidak membalas pesan dari Mori. Dan aku juga tidak berminat untuk membaca semua pesan masuk dari teman-temanku. Kuarahkan kursor mouse ke arah delete. Dan kuhapus semua pesan masukku.


Rain….dimanakah kamu? Apakah kamu baik-baik saja? Kuharap kamu baik-baik saja.

Serial Nadya eps. 7 - anD thE rAin pOurs dOwn

“APAA?? GILA BANGET!! Trus lo ga jawab iya kan Nad?”, Mori, sahabat baikku, terlihat shock dengan berita Nathan melamarku. Aku terdiam.


“Nad? Kenapa lo diem aja? Lo ga jawab “iya” kan ke Nathan?”, suara Mori terdengar meninggi melihat reaksiku yang hanya mematung.


Aku hanya mampu menghela nafas panjang hingga akhirnya aku menjawab, “Gue ga tau Mor. Gue ga bisa berkata apa-apa. Gue cuma bisa membiarkan dia memakaikan cincin itu ke tangan gue”


“LO DAH GILA YAHHH? Oh shittt!!! Nad, apa sih yang lo pikirin? Otak lo udah ga beres yah? Gimana mungkin lo terima cincin dari cowok brengsek itu? Gue bener-bener ga ngerti jalan pikiran lo”, Mori terus mengomel panjang lebar. Belum pernah aku melihat Mori semarah itu. Tapi aku tau Mori bereaksi seperti itu karena dia sayang ama aku. Dia sahabat terbaikku.


“Gue bingung Mor. Gue…”


“Nad, lo inget ga sih betapa gilanya si Nathan? Lo inget ga waktu dia memberikan 10 Larangan yang dia print-out dan tempel di kamar lo dulu? Lo inget ga waktu dia tiba-tiba ninggalin lo demi cewek lain? Lo inget ga waktu lo hujan-hujan ke rumahnya mau ketemu ama dia tapi dia sama sekali ga perduli ama lo? Lo inget ga semua itu?!! Otak lo udah gak beres gue rasa. Sekarang dia ngelamar lo dan lo terima? Apa jangan-jangan lo terpengaruh karena cincin diamond yang dia kasih ke lo?”


“Kok lo tega-teganya nuduh gue kayak gitu Mor? Lo kan udah lama kenal gue. Gue ga nyangka lo bisa nuduh begitu ke gue”, aku sangat kecewa dengan tuduhan Mori kepadaku. Dia sama sekali ga tau apa yang aku pikirkan.


“Gue juga ga nyangka lo bisa sebodoh itu. Gue bener-bener kecewa ama lo Nad”, Mori membuang muka tanpa mau menatapku. Aku tau dia pasti sangat kecewa padaku.


“Sorry Mor”, ujarku sambil meninggalkan kamar Mori. Entah apa yang ada di pikiranku. Aku hanya merasakan bahwa jiwaku bagaikan tak menyatu dengan ragaku. Pikiranku juga tampak tidak menyatu dengan jiwa dan ragaku.


“Trus gimana dengan Rain?”, Mori bertanya dengan dingin.


Aku tidak menjawab pertanyaan Mori dan aku berlalu pergi. Maaf…

*****


Aku sedang bersiap-siap untuk tidur dan bunyi pesan masuk pada handphoneku. Aku membuka isi pesan tersebut. Rain…


“Maybe I’m too afraid to tell you that I miss you. But I really miss you today. But u keep silence tonight. I’m wondering if this is only a dream, I don’t want to be wake up coz I don’t brave enough to see u leave. Can I meet u? Good nite my lady”


Cepat atau lambat aku memang harus berbicara dengan Rain. Aku ga bisa membiarkan ini terus berlangsung. Aku ingin semuanya berjalan dengan sempurna.


“How about dinner tomorrow night after working? 7 PM.”


Aku membalas pesan dari Rain untuk bertemu dengannya besok malam. Hanya sebuah kata-kata yang terlintas dalam pikiranku “Don’t play with fire or you will get burn”. Dan aku berusaha memejamkan mataku untuk tidur.

*****


“Aku paling suka suasana di restoran ini. Tempatnya cozy banget”


“Aku juga suka. Karna ada kamu”


Aku merasakan pipiku memerah. “Kamu bisa aja”, ucapku kemudian.


Kutatap Rain dalam-dalam. Mungkin aku tak bisa menatapnya lagi seperti ini. Maka aku ingin menatapnya lekat-lekat. Aku ingin menyimpannya dalam benakku. Rain…sosok yang aku rindukan kelak.


“Jangan kagum gitu donk. Liatin aku ampe segitunya”. Rain tampaknya menyadari aku menatapnya terus menerus.


“Yeeeyyy kamu ge-er banget sih”, jawabku dengan gaya salting.


“Dari tatapan mata kamu, kamu kayak nyimpen sesuatu. Kamu kenapa? Apa ada yang mau kamu bicarakan?”, tanyanya kemudian setelah keheningan untuk beberapa saat. Rain tampaknya menyadari bahwa ada yang ingin aku bicarakan kepadanya. Aku yakin dia pasti menyadari sorot kesedihan yang terpancar dalam mataku.


“Eh makanannya udah datang. Cobain deh. Kayaknya enak”, jawabku sambil mengalihkan pembicaraan. Aku ga mau merusak suasana makan sekarang. Kata demi kata bermain-main di dalam otakku. Setelah makan malam nanti mungkin aku harus mengucapkan perpisahan kepadanya.Meskipun dengan berat hati.


“Aku ingin berjalan-jalan di taman. Mau cari suasana segar”, ucapku pada Rain setelah makan malam selesai.

*****


Hari ini dia terlihat sangat tampan. Rambutnya tertata rapi. Dia tersenyum kepadaku dan mengangguk. Ahhh senyumannya terlihat manis sekali. Senyum yang akan aku rindukan di kemudian hari. Aku hanya ingin menikmati malam ini bersamanya. Mungkin ini adalah malam terakhir bagi kami berdua. Setelah malam ini, mungkin kami tidak akan bertemu lagi.


Aku menghela nafas panjang ketika mengingat semua itu. Berat rasanya hati ini untuk melupakannya. Namun aku harus melakukannya. Karna aku telah memilih untuk menikah dengan Nathan.


“Kenapa Nad? Kok dari tadi aku perhatiin kayak ada yang kamu pikirin? Boleh aku tau?”, Rain tiba-tiba bertanya kepadaku setelah kita berjalan-jalan di taman sementara aku hanya bermain-main dalam pikiranku sendiri.


Aku tersenyum dan berkata “Aku hanya ingin menikmati malam ini. Mungkin aku ga bisa menikmati suasana kayak gini lagi nantinya”


“Kamu suka jalan-jalan di taman kayak gini? Ya udah ntar kapan-kapan kan kita bisa jalan kesini lagi kalo kamu mau”


Aku tersenyum dan menatapnya. Kamu bodoh sekali, ucapku dalam hati.


“Ada yang mau aku tanyain ama kamu”, aku tiba-tiba berhenti dan berdiri berhadapan dengannya.


“Apa?”, tanyanya sambil menatapku dengan lembut.


“Bagaimana kalo ketika kamu menutup mata dan pada saat kamu membukanya lagi, aku udah ga ada?”, tanyaku sambil menutupkan kedua belah matanya dengan kedua telapak tanganku.


Dia menggenggam kedua tanganku yang menutup matanya dan menggenggamnya dengan erat. “Aku ga akan membiarkan kamu pergi dari hadapanku. Aku akan menggenggammu seperti sekarang ini. Karna aku ga ingin kehilangan kamu. Aku mencintai kamu Nad.”


Aku hanya tersenyum dan melepaskan genggaman tangan darinya. Kemudian aku membalikkan badanku dan memegang tiang yang berada di sisi jalan.


“Kamu liat deh disana. Bagus yah lampu-lampunya”, ucapku pada Rain yang menyusulku berdiri di samping tiang.


Dia mengikuti arah pandang ke tempat yang aku tunjuk dan berkata “Iya. Bagus banget.”


“Eh kita main hide and seek yuk. Kamu yang cari, aku yang ngumpet. Kamu pejamin mata kamu dan ga boleh balik badan ampe hitungan ke-10. Setelah itungan ke-10 kamu baru boleh cari aku. Aku akan kasih kertas yang berisi penunjuk tempat dimana aku berada. Gimana oke ga?”, kataku kepada Rain.


“Buat ngapain sih main begituan?”, tanyanya heran.


“Ga papa. Aku cuma pengen main aja ama kamu. Please sekali ini aja. Aku bener-bener pengen nikmatin malam ini. Yaaa? Pleaseeeeee.”, ucapku dengan tatapan sendu.


Aku ga tau lagi bagaimana membuat suasana perpisahan yang indah. Karna aku pasti ga sanggup untuk mengatakan itu semua secara langsung. Aku ga ingin dia menatapku pergi. Karna aku tau betapa sakitnya ketika menatap seseorang berlalu pergi dan menjauh. Seperti sakitnya hati ketika melihat Nathan pergi dari ku ketika dia memutuskan hubungan denganku. Meskipun aku tau aku akan menyakiti Rain. Tapi aku ga ingin dia menatapku pergi. Hal itu akan lebih menyakitkan. Rain mengangguk setuju. Aku tersenyum kepadanya.


“Oke kamu balik badan dulu. Aku mau nulis petunjuk dulu. Kamu ga boleh ngintip yah?”, ucapku sambil mengeluarkan kertas dan pulpen dari tas ku.


“Iyahhh sayang”, ucapnya sambil membalikkan badan.


Aku menuliskan beberapa kata-kata di secarik kertas untuk beberapa saat. “Udah”, ucapku kemudian setelah selesai menulisnya. Kemudian aku menyelipkannya didalam jemarinya sambil kugenggam erat-erat.

“Kamu hitung ampe sepuluh kemudian baca petunjuk yang aku tulis. Aku harap kamu bisa mengerti sama apa yang aku tulis. Thank you…”, bisikku dari belakang dengan lembut ditelinganya.


“Ayo kita mulai hitung sekarang. Mulai!!!”, ucapku padanya sambil berjalan mundur.


“Satu…”

Rain…maafin aku. Sungguh berat hati ini harus melepaskanmu.


“Dua….”

Tapi aku harus melakukan semua ini. Semoga suatu hari nanti kamu bisa mengerti atas apa yang aku lakukan…


“Tiga…”

Hati ini terasa perih untuk berjalan mundur seperti ini dan melihat punggung belakang tubuhmu yang mulai menjauh dari hadapanku…Ku sadari bahwa aku mulai menyayangimu…Aku telah jatuh cinta kepadamu…


“Empat…”

Air mata telah mulai membasahi kedua belah pipiku. Sanggupkah aku berjalan mundur untuk menjauh dari seseorang yang aku cintai tapi aku tidak bisa bersamanya.


“Lima…”

Mungkin hal yang paling menyakitkan didunia ini adalah ketika kita mencintai seseorang namun kita harus menerima kenyataan bahwa kitatidak bisa bersama orang yang kita cintai karna beberapa hal…Inilah yang sedang aku rasakan sekarang…Setelah Nathan, sebuah cinta baru hadir yaitu ketika bertemu kamu Rain…


Kemudian aku membalikkan tubuhku untuk berlari menjauh dari tempat itu sambil menangis. Sayup sayup masih terdengar suara Rain yang masih menghitung hingga suaranya makin menjauh dan menghilang.


“Enam…”


“Tujuh…”


“Delapan…”


“Sembilan…”


“Sepuluh…”


Rain membuka mata dan melihat kertas petunjuk yang diberikan oleh Nadya.


Rain…

Maafin aku. Tapi aku harus pergi. Maaf bila aku ga bisa bersama kamu. Maaf bila aku bukan seseorang yang tepat bagimu. Maaf bila kita harus berpisah dengan cara seperti ini. Aku harap suatu saat nanti kamu akan mengerti. Terima kasih atas segalanya. Terima kasih atas kebahagiaan yang telah kamu hadirkan dalam hidupku sejak kita bertemu. Terima kasih atas semua cinta yang telah kamu berikan kepadaku. Terima kasih atas setiap malam indah yang telah kita lalui bersama terutama hari ini. Terima kasih telah pernah hadir dalam hidupku. Terima kasih atas segalanya…


- Nadya -



Rain mulai berkaca-kaca. Pertanyaan demi pertanyaan hadir dalam pikirannya. Dan ia tidak tau jawabannya. Karna Nadya telah membawa pergi semua jawaban tersebut. Air mata mulai menetes dari sudut-sudut matanya. Ahhh dasar gadis bodoh. Apa sih yang kamu pikirkan. Kamu pikir aku bisa menerima semua ini begitu saja?


Dan Rain tau siapa orang yang harus ia cari untuk menanyakan soal Nadya. Viona.


Dan hujan pun turun.

Serial Nadya eps. 6 - BeTweeN hiM anD hiM

It’s Sunday

Hari ini aku ada janji ama Nathan untuk bertemu di Starbucks, Plasa Senayan jam 4 sore. Dia sudah duduk di salah satu bangku bagian outdoor menungguku. Jantungku berdetak dan aku merasa gugup ketika melihatnya. Dia melambaikan tangan kepadaku ketika melihatku. Aku berjalan ke arahnya. Wajahnya masih terlihat sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Hanya terlihat lebih kurus sedikit. Dia menggunakan kemeja coklat dengan detail garis, hadiah yang pernah kuberikan ketika dia berulang tahun saat kita masih bersama. Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa dia menggunakan kemeja itu ketika bertemu denganku.

“Sendiri aja? Pacarmu mana?”, tanyaku ketika duduk dihadapannya.

Pikiranku langsung flashback ketika dia memutuskanku ketika kita di Excelso. Kata-katanya masih terngiang jelas ditelingaku.

“Haii…Udah lama ga ketemu. Kamu makin cantik aja”, dia malah memujiku dan tidak menjawab pertanyaanku. “Apa kabar?”, lanjutnya.

“Aku baik-baik aja. Kamu gimana?”, ucapku sambil tersenyum. Saat ini aku merasa bahagia meskipun butuh waktu lama bagiku untuk melupakan sosok yang ada didepanku.

“Hmm…aku juga baik-baik aja”, dia tersenyum sambil menatapku dengan tatapannya yang teduh. Aahh pandangan mata itu. Pandangan mata yang dulu pernah aku rindukan. Kemudian aku buru-buru tersadar. Aku ga mau terlena lagi. Aku sudah mampu melupakannya setelah sekian lama. Aku ga mau usaha aku selama ini sia-sia.

“Ow oke”, jawabku singkat. “Oiyah ada apa yah mengajak aku bertemu?”, tanyaku lebih lanjut.

Dia terdiam dan menatapku. Tatapan matanya bagaikan sedang mencari-cari sesuatu di mataku. Aku menatapnya dengan bingung. Ada apa dengannya?

“Apakah kamu masih merindukan aku?”, pertanyaan yang membuat aku kaget dan shock.

Aku hanya tertawa dan berkata, “Untuk apa menanyakan hal seperti itu? Kayaknya bukan hal yang penting deh.”

Dia tertawa kecil sambil menunduk sebentar. Kemudian menatapku lagi dengan serius. Dan berkata, “Karna aku masih merindukanmu selama ini. Aku ga pernah bisa melupakanmu. Dan aku ga pernah berhenti menyesali bahwa aku meninggalkanmu dulu.”

BLAST!! Jantungku berhenti berdegup untuk seketika. Pandangan mataku blur untuk seketika. Dan kupingku bagaikan berdenging. Apakah ini semua mimpi? Aku berusaha menyadarkan diriku. Mungkin aku hanya salah mendengar.

“Hah?”, hanya itu kata-kata yang terucap dari bibirku setelah berusaha mengumpulkan kesadaranku.

Dia tersenyum geli menatapku. Mungkin aku terlihat bodoh dihadapannya. Dia mengacak-acak rambut depanku dengan lembut sambil berkata, “Duh kamu jangan kaget gitu donk. Kamu masih sepolos dulu yah? Reaksi kaget kamu lucu.”

“Aku ga ngerti ama perkataan kamu tadi”, ucapku singkat.

Wajahnya terlihat kaget mendengar perkataanku barusan. Dia tersenyum lembut kepadaku. “Aku masih mencintaimu Nadya. Aku..Aku udah putus ama pacarku. Dan…”

“Dan kamu ingin mencari pelarian ke aku? Gitu? Kamu salah kalo berpikir bahwa aku masih merindukan kamu. Jujur aja aku udah lama ngelupain kamu. Waktu setahun lebih udah mampu membuat aku menata lagi hidup aku tanpa kamu. Dan aku bahagia sekarang. Jadi kamu ga perlu buang-buang waktu kamu untuk mengatakan bahwa kamu masih mencintaiku”, aku memotong pembicaraannya dengan ketus. Aku ga mau mendengar semua omong kosong dari mulutnya lagi. Aku berusaha mengontrol emosi yang bergerak tak beraturan.

“Nadya, ga pernah sekalipun aku ingin mencari pelarian ke kamu. Aku bener-bener menyesal udah pernah menyakiti hati kamu. Asal kamu tau, Nad, aku ga pernah berhenti mengingat tentang dirimu. Aku sangat merindukan waktu kita masih bersama. Cuma kamu yang bisa membuatku bahagia. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku. So please give me a chance, Nad. Aku pengen kita balikan lagi”, Nathan berusaha menggenggam tanganku. Aku menepisnya. Aku makin ga ngerti dengan maunya. Sekarang dia malah meminta balikan. Kepalaku terasa berkunang-kunang.

Aku menggelengkan kepalaku dan berkata, “Than, ini adalah hal yang ga mungkin. Aku udah bersusah payah menghapus kamu dari kehidupanku dan sekarang setelah aku mampu melalui semua masa-masa sulit tersebut kamu malah mau memintaku kembali kepadamu? Sorry aku ga mau, Than. Aku udah merasa cukup atas semuanya.”

“Nad, pleaseee! Kamu coba mikir-mikir dulu deh”, dia merajuk.

“Than, dengerin yah. Aku udah ga ada perasaan apa-apa lagi ama kamu. Saat ini aku sedang dekat dengan seseorang. Aku menyukainya. Aku harap kamu mengerti. Sorry aku udah harus pergi. Bye”, aku meninggalkan Nathan yang masih terduduk disana. Aku harus terlihat tegar didepannya. Dia yang selama ini telah menyakiti hatiku kini memintaku kembali disaat aku sudah melupakannya. Aku bener-bener tidak mengerti maksud dan tujuannya. Aku berusaha untuk tidak menengok ke belakang tempatnya duduk. Dan tanpa terasa air mata menetes dari mataku. Aahh aku ga ngerti apa yang aku tangisi. Aku ingin mengubur semua masa laluku bersamanya. Karna aku telah berjalan sejauh ini, aku ga ingin kembali ke tempat dimana aku tidak merasa bahagia. Aku berlalu dari Starbucks.
*****

Friday, 11 p.m


Handphoneku berbunyi keras. Aku melihat layarnya tertera nama Nathan. Mau apa lagi sih dia malam-malam gini? Aku mencoba untuk tidak menghiraukan teleponnya. Namun dia menelepon terus-terusan hingga akhirnya aku angkat teleponnya.

“Halo?”

“Hai, Nad. Kamu lagi ngapain? Kok lama banget angkatnya?”, nada suaranya terdengar manja. Tapi aku ga terpengaruh sama sekali.

“Mau ngapain lagi sih kamu nelpon aku?”, aku mulai gusar ketika menjawab teleponnya.

Dia terdiam dan tidak menjawab.

“Aku kan udah bilang dengan jelas waktu itu. Saat ini aku sedang dekat dengan seseorang. Aku menyukainya. Aku ingin memulai kehidupan baruku dengannya”, lanjutku tanpa menghiraukan kebisuannya.

“Apa kamu mencintainya? Apa dia bisa menggantikan aku dihatimu?”

“Kamu kenapa sih?”

“Nad…aku ga akan berhenti mengejarmu. Aku ga akan segitu gampangnya menyerahkan kamu ke cowok lain. Aku masih mencintai kamu, Nad. Aku tau kamu juga masih mencintai aku. Kamu jangan membohongi dirimu sendiri. Aku ga akan menyerah”

Aku terdiam dan membisu. Aku benar-benar telah kehabisan kata-kata. Mungkin dia benar. Jauh di lubuk hatiku aku mungkin masih menyayanginya. Tapi aku telah menghapus bayangannya dari hidupku. Sekarang aku menyukai Rain. Nathan hanya bagian masa laluku. Masa lalu yang telah aku lupakan.

“Nad…aku sekarang ada di depan rumahmu. Aku ingin bertemu denganmu. Please”

Nathan memang bener-bener nekad. Udah malam gini masih datang ke rumahku. Aku bisa aja membalas perlakuan dia padaku ketika dulu. Tapi aku ga mau melakukannya. Karna aku tau sakitnya ditolak. Meskipun dia adalah orang yang pernah menolak untuk bertemu denganku. Tapi tidak sedikitpun terbersit oleh pikiranku untuk membalasnya. Yah mungkin untuk saat ini. Aku membukakan pintu untuknya. Betapa kaget aku melihat dia sedang memegang sebuah buket bunga mawar berwarna pink yang terbungkus rapi. Bunga-bunga itu terlihat indah. Dia masih ingat bunga kesukaanku. Pink Rose.

“Nih buat kamu”, ucapnya sambil menyerahkan sebuket bunga mawar pink tersebut.

“Thanx. Sebenernya kamu ga perlu repot-repot. Aku rasa aku sudah mengatakan dengan cukup jelas. Harusnya kamu udah tau jawabanku. Harusnya…”, belum habis kalimatku dia tiba-tiba memberikanku sebuah cincin diamond berbentuk hati dan berkata, “Aku ingin kamu menikah denganku. Dulu kita udah pernah pacaran. Sekarang aku ingin melamar kamu untuk menjadi pendamping hidupku. Will you marry me?”

Aku kaget setengah mati. Dan aku hanya mampu berdiri mematung menatapnya tanpa berkata sepatah kata apapun. Duniaku terasa berputar begitu cepat hingga aku tak mampu menyadari apa yang sedang terjadi. Rain yang baru-baru ini menyatakan perasaannya kepadaku. Nathan yang tiba-tiba kembali dan ingin melamarku saat ini. Jiwaku bagaikan melayang keluar dari ragaku. Dan aku masih terdiam. Dan dia masih memegang cincin tersebut di hadapanku.

Serial Nadya eps. 5 - sOmeOne frOm thE pAsT

Hoaammm udah pagi lagi. Hari ini adalah hari Sabtu. Rasanya aku baru tidur sebentar saja. Namun alarmku sudah berbunyi lagi. Aku mengecek handphoneku. Sudah ada 1 pesan masuk di layar ponselku. Dari Fahrenzi:

Good Morning sweety…I can’t sleep last night coz thinking of you for all night. I really miss you. Can we have dinner tonight?

Aku tersenyum membaca SMS dari Rain. Aku merasa senang membaca SMS darinya. Aku baru saja hendak membalas SMS dari Rain namun tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku membuka pesan baru tersebut dan jantungku berhenti berdetak seketika ketika membaca nama si pengirim pesan.

From Nathan:

Hai Nad, apa kabar? Masih inget ga ama aku?


Nathan. Udah lama sekali aku ga mendengar kabar darinya sejak aku ke rumahnya untuk terakhir kali. Aku ingat waktu itu Nathan ga mau ketemu ama aku ketika aku menunggunya di depan rumahnya. Nathan…Cowok yang pernah menyayangiku serta menyakitiku. Nathan…

Perih terasa menjalar hatiku ketika mengingat tentangnya. Dia yang sudah aku lupakan. Dia yang sudah aku hapus dari bayanganku. Kenapa dia tiba-tiba mengirimkan SMS kepadaku? Aku hanya mampu menatap layar ponselku tanpa bergeming. Kubaca ulang SMS dari Nathan yang aku terima barusan. Entah sudah berapa puluh kali kubaca ulang SMS darinya kata demi kata. Aku berpikir perlu kah aku membalas SMS darinya? Aarrghhh!!! Ada apa denganku? Kenapa hanya karna sebuah SMS darinya mampu membuatku kacau seperti ini?

Setengah jam telah berlalu sejak SMS dari Nathan. Tapi aku masih terpaku menatap layar handphoneku tanpa bergeming. Hingga akhirnya 1 jam berlalu. Akhirnya aku memutuskan untuk membalas SMS tersebut.

Hai. Aku baik-baik aja. Masih inget kok.

Hanya itu yang aku tulis untuk membalas SMSnya. Singkat. Aku gak tau harus menulis apalagi. Kemudian aku teringat akan SMS dari Rain yang belum aku balas dari tadi. Betapa bodohnya diriku. Aku segera membalas SMS dari Rain untuk mengiyakan ajakan dinner darinya. Hmm…Nathan sudah tidak membalas SMS dariku. Kenapa yah? Aku bertanya-tanya dalam hati. Apa karna aku tidak menanyakan balik kabar darinya? Sudahlah. Ngapain aku memikirkan hal itu lagi. Selama ini aku masih mampu bertahan kok sejak dia meninggalkanku. Aku merasa hidupku baik-baik aja tanpanya. Dan kini ada Rain yang mulai mampu membuatku memikirkan tentang sosok lain selain Nathan. Udah lama banget aku ga merasakan perasaan menyukai seseorang seperti ini. Aahh Rain. Kau memang bagaikan hujan yang mampu menyejukkan hatiku.

*****

Aku sedang bersiap-siap sebelum Rain menjemputku. Aku memakai little black dress yang kupadukan dengan open toe shoes berwarna hitam. Tiba-tiba handphone-ku berdering ketika aku sedang menyisir rambutku. Aku melihat layar handphoneku. Kupikir itu pasti Rain yang menelepon untuk mengatakan bahwa dia sudah hampir sampai kerumahku. Tapi ternyata bukan Rain yang menelepon. Melainkan Nathan. Aku ragu-ragu untuk mengangkat telepon darinya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengangkat setelah menenangkan diri untuk beberapa saat.

“Halo”, ucapku dengan hati-hati.

“Hai Nad. Lagi ngapain?”, suaranya terdengar bersemangat.

“Lagi siap-siap nih.”

“Oh lagi mau pergi yah?”

“Iya. Ada apa yah?”, tanyaku secara langsung. Aku ga mau berbasa-basi dengannya.

“Enggak. Cuma pengen nelepon kamu aja. Emang ga boleh? Hehe..”

“Boleh sih. Tumben aja.”

“Gak lah. Aku kan udah lama ga denger kabar dari kamu. Hmm..Bisa kita ketemuan?”

“Kapan? Ada perlu apa yah?”

“Emm..Pengen ngobrol-ngobrol aja ama kamu. Boleh yah? Please. Besok sore bisa?”, tanyanya.

Duh ngapain yah dia mau ajakin aku ketemuan segala. Atau mungkin dia mau ngasih undangan married? Well kalo gitu aku ga ada masalah untuk ketemu dengannya.

“Hmm…oke. Besok sore boleh juga. Waktu dan tempat nanti kamu kabarin aku aja. Nanti aku datang. Aku siap-siap dulu yah. Aku udah mau pergi nih”, aku berusaha menyudahi percakapan kami berdua.

“Oh oke. Kamu mau nge-date yah?”

Aku terdiam seketika. Kemudian aku berkata, “Kalo iya kenapa?”

“Yah ga papa sih. Cuma pengen tau aja. Ya udah besok aku jemput kamu aja yah? See you tomorrow”

“Eeh ga usah. Besok aku nyetir sendiri aja. Kamu tar SMS aku aja ketemu dimana. Bye.”

“Ow. Oke. Bye”, nadanya terdengar kecewa. Tapi aku ga mau memikirkannya.

Kemudian kutekan tombol merah yang ada di handphoneku. Aku bertanya-tanya dalam hati apa yang ingin ia bicarakan padaku besok. Kenapa sampai harus bertemu dan mau menjemputku segala. Belum habis aku bertanya-tanya dalam hati tiba-tiba Rain meneleponku.

“Aku udah sampai yah”, ucapnya ketika aku mengangkat telepon darinya.

*****

Aku dinner berdua Rain di sebuah restoran yang terletak di gedung BNI 46, Cilantro. Tempatnya cukup romantis. “Kamu cantik sekali hari ini”, dia memuji penampilanku malam ini. Aku hanya tersipu malu sambil mengucapkan terima kasih atas pujiannya. Kemudian kita memesan makanan. Dan ia mulai menanyakan tentang tawarannya untuk menjadi kekasihku.

“Jadi?”, tanyanya sambil menatapku dengan malu-malu.

“Jujur aja aku juga suka ama kamu. Tapi….”

“Tapiii? Apa yang membuat kamu ragu?”, potongnya.

“Masih ada hal-hal yang perlu aku pertimbangin. Can u give me a time, please?”, aku berusaha merajuk.

“Okay baby. Aku ga mau memaksa kamu. Yang penting kita bisa enjoy malam ini berdua”, ucapnya sambil tersenyum.

Bodoh!! Kenapa aku jadi speechless dan ragu begini. Apa karna telepon dari Nathan tadi? Aahhh…harusnya aku ga perlu mikirin Nathan untuk saat ini. Lagian maunya apa sih tuh cowok. Sekarang ada Rain yang selalu membuatku tersenyum.

“Kok bengong? Lagi mikirin apa?”, tanyanya tiba-tiba yang membuatku terkejut.

“E-eh…enggak”, jawabku gugup.

“Malam ini kamu kelihatan lebih pendiam. Lagi banyak pikiran yah? Atau karna lagi mikirin aku?”, dia tersenyum jahil.

“Apa sih? Kamu geer banget deh”, jawabku sambil tersenyum.

Rain memang paling bisa membuatku tersenyum dan tertawa. Mungkin karna hal itu lah aku merasa nyaman berada didekatnya. Aahh seandainya kamu tau Rain bahwa setiap kali aku berada didekatmu hatiku bergetar tak karuan.

“Thanx for the dinner”, ucapku ketika dia mengantarku pulang.

“Thank you too for tonight”, jawabnya. “Eh Nad…”, lanjutnya.

“Ya?”

Dia menggeleng dan berkata “Gak jadi deh”

Aku menatapnya dengan curiga kemudian tersenyum, “Dasar!”

Serial Nadya eps. 4 - LeT iT bUrN

one year and three months later…

Hoaammm…tidurku terasa teramat nyenyak. aku bahkan tidak ingin untuk bangun dari kasurku yang empuk hihihi…tapi aku ingat bahwa hari ini aku ada janji dengan mamaku untuk menemaninya ke Mall. Hari ini adalah hari Sabtu. Ga kerasa udah weekend lagi!! Waktu terasa begitu cepat berlalu. Dan setahun belakangan ini aku selalu mengisi weekend-ku untuk hang out ama temen-temen dari berbagai macam kalangan. Ring ring. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi.

“Alow nek, udah bangun belom lo?”

“Udah lah. Ada apa nih lo pagi-pagi udah nelponin gue?”

“Ntar malem jadi kan? Jangan lupa ye hwehehehe…Can’t wait for tonite”

“Gile semangat banget sih lo? Iya iya gue ga lupa kok.”

“Okay babe. i’ll pick you up on 6. Dandan yang cantik yah say. See ya.”

Viona, temen kampusku yang barusan menelepon. Malam ini dia mengajakku untuk pergi makan bareng pacar dan teman-temannya. Dia mau mengenalkanku pada temannya. Hal yang biasa bagiku. Aku udah ga dapat menghitung berapa banyak cowok yang dikenalkan oleh temen-temenku kepadaku. Diantara temen-temenku emang aku termasuk salah satu yang masih jomblo. Hal itu lah yang membuat temen-temenku kerap untuk mengenalkanku kepada temen-temennya yang masih jomblo juga. Terkadang aku merasa malas untuk diperkenalkan ke cowok-cowok baru. Karena aku udah tau kelanjutannya. Aku pasti akan bersikap cuek. Karna sejak berpisah dari dia, sulit bagiku untuk menyukai orang lain. Apalagi untuk jatuh cinta. Aaahh…Sudah lama aku tak merasakan jatuh cinta. Bahkan untuk tertarik pada cowok lain pun aku ga pernah. Aku sempat beberapa kali didekati oleh cowok-cowok yang tertarik pada diriku. Dan
aku mencoba untuk membuka pintu hatiku yang telah lama tertutup. Tapi aku ga bisa. Bayangannya masih terus berkelebat didalam pikiran dan hatiku. Aku mulai membanding-bandingkan mereka dengan dia. Aku tau ini ga adil bagi mereka. Aku ga seharusnya melakukan hal itu. Namun hati kecilku ga bisa berbohong. Terkadang aku masih merindukan kehadirannya. Meski dia telah menyakiti hatiku. Meski dia telah memiliki wanita pengganti diriku. Tapi sulit bagiku untuk melupakan semua kenangan tentang dia. Aku menepis semua pikiranku. Aku ga ingin larut terlalu lama dalam pikiran yang telah lama aku lupakan.
*****

5.45 p.m

Baju, tas, dan sepatu telah aku pakai dengan lengkap. Aku tinggal memoles maskara ke bulu mataku. Sebentar lagi Viona akan menjemputku.
Ring ring. Aku melihat nama Viona di layar HPku.

“Halo”

“Say, gue udah mau ampe yah”

“Ok”

Dinn dinnn. Klakson mobil Viona berbunyi didepan rumahku. Aku bergegas keluar rumah. Viona dan cowoknya yang menjemputku.

“Halo”, sapaku kepada mereka berdua.

“Haiii…Aduhhh cantik banget. Jadi ga sabar nih”, ucap Viona setelah aku masuk ke mobilnya.

“Buset. Kenapa jadi lo yang ga sabar. Ini bukan acara temu jodoh kok”, jawabku sambil tersenyum.

Akhirnya kita sampai di restoran seafood Bandar Jakarta, Ancol. Tempatnya bagus dengan suasana pinggir pantai. Viona menarikku ke sebuah meja dimana ada seorang cowok sedang duduk disana.

“Hai Rain, udah lama? Nih kenalin Nadya”, Viona mengenalkan aku ama cowok berambut spike yang sedang memakai kemeja berwarna putih itu.

Viona tersenyum-senyum memandang ke arah kita berdua.

“Haaiii. Fahrenzi. Panggil aja Rain”, cowok itu mengulurkan tangan kepadaku sambil tersenyum.

“Nadya”, jawabku sambil menjabat tangannya.

Duh senyumnya genit banget. Dari caranya berkata “hai” aja keliatan model cowok ganjen. Apa tuh namanya. Fahrenzi? Kok kedengeran kayak Fahrenheit? Nama yang aneh. Panggilannya sok keren banget. Rain. Padahal dia sama sekali ga mirip artis korea, Rain. Tatapan matanya juga genit. Senyumnya genit. Haiz kenapa Viona bisa mengenalkan aku kepada cowok seperti ini?

Akhirnya kita makan malam ber-empat. Aku, Viona, cowoknya Viona - Rico, dan cowok bernama aneh tersebut, Fahrenheit eh Fahrenzi. Kita ngobrol selama makan malam tersebut. Dan aku tetap berusaha menjaga jarak dari Rain. Mungkin di matanya aku terlihat sebagai cewek yang belagu dan sombong. Biarin aja. Emang itu kesan yang aku ingin tinggalkan untuknya. Aku sama sekali ga menyukai cara dia ngomong. Sok diplomatis banget. Gaya bercandanya juga sok lucu. Aku sama sekali ga berminat. Dan ketika aku udah mau pulang, Rain meminta nomor teleponku.

“Boleh minta nomor HP-nya ga?”, Rain bertanya seraya menyodorkan handphonenya kepadaku.

Aku hanya mengangguk dan memasukkan nomor HP-ku ke dalam phone book handphone Motorolla-nya.

Dan setelah hari itu, Rain sering mengirimkan SMS serta meneleponku. Aku sering tidak menggubris SMS darinya dan bahkan teleponnya pun hanya aku angkat kalau sedang tidak malas. Tapi dia tidak pernah lelah untuk menghubungiku. Kemudian dia mulai mengajakku pergi ketika malam minggu. Dan aku mengiyakan ajakannya.


Saturday, 6 p.m

Rain menjemputku dengan mobilnya. Dia memakai kaos polo shirt berwarna putih. Rambutnya yang model spike ditata dengan sedemikian rapi. Hari itu wajahnya terlihat kalem dan mempesona. Aku menatapnya yang sedang menyetir secara diam-diam. Kita pergi dinner di sebuah restoran Western yang terletak di jalan Veteran. Suasana restoran itu cukup romantis dengan hamparan cahaya lilin yang redup. Kami memilih tempat duduk di lantai atas. Private room yang hanya berisi berkisar 3 meja dan kami memilih meja yang paling dekat dengan jendela.

“Mau pesen apa? Disini favoritenya Garlic Snail. Mau mencoba?”, tanyanya padaku setelah membolak-balikkan buku menu.

“Hmm..boleh juga”, jawabku sambil tersenyum simpul.

Kemudian dia memesan makanan pada pelayan restoran. Kami mulai mengobrol panjang lebar. Dia mulai menceritakan tentang dirinya dan menanyakan tentang diriku. Pandanganku tentangnya mulai berubah. Dia bukan pria menyebalkan dan genit seperti pandanganku pertama kali tentang dirinya. Dia pria yang sangat sopan. Dia juga bisa membuatku tertawa dengan cerita-cerita konyolnya. Namun terkadang ia bisa menjadi begitu serius. Dia adalah pria yang pintar dalam berbicara serta berwawasan luas. Dia juga sangatlah bijaksana. Itulah hal-hal yang aku bisa nilai dari dirinya pada pertemuanku dengannya hari ini. Hari ini dia terlihat lebih manis dan tidak menyebalkan. Aku diam-diam tersenyum ketika menatapnya.

“Kok senyum-senyum?”, tiba-tiba dia bertanya dalam perjalanan pulang.

“Hah? gak kok. Siapa yang senyum-senyum?”, aku mencoba membantah sambil membuang pandanganku ke arah luar jendela mobil. Aduh mampus deh. Kok dia sadar yah kalo aku ngeliatin dia dari tadi, pikirku dalam hati.

Dan ketika aku coba untuk memalingkan arah pandangku untuk melihatnya lagi, dia sedang melihatku.

“Kenapa?”, tanyaku dengan pandangan heran.

Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian hening terasa di mobil itu. Kemudian dia tiba-tiba berkata, “Kamu cantik sekali malam ini.” Aku merasakan panas menjalar di kedua pipiku.

Dan aku bersyukur karena kita sedang berada didalam mobil. Karena aku akan lebih merasa malu lagi bila dia melihat kedua belah pipiku yang memerah karena tersipu malu. Hari itu entah mengapa aku merasa bahagia. Baru kali ini aku merasa nyaman ketika berbicara dengan seseorang. Hingga akhirnya kita sudah tiba dirumahku. Dia turun untuk mengantarku hingga ke depan rumah.

“Thanx yah. Bye”, ucapku padanya.

“Okay. Good nite”, dia melambaikan tangannya kepadaku.

Ketika aku berjalan masuk ke kamarku tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk di ponselku. Thank you for tonight. I’m happy spending time with you. Good night, sweety. Dan aku hanya tersenyum membaca pesan darinya.

Sejak hari itu hubunganku dengan Fahrenzi jadi semakin dekat. Dia mengajakku dalam pembukaan restoran baru milik temannya. Dia mengenalkanku kepada teman-temannya. Dia juga mengajakku dinner romantis di sebuah restoran yang terletak dipinggir pantai. Terkadang dia bersikap teramat manis. Namun kadang-kadang dia terlihat cuek kepadaku. Aku semakin penasaran dengannya. Ketika aku sedang merasa sedih, aku ingat dia mengatakan kepadaku “Smile, and the world will smile with you”. Aku merasakan keanehan menjalar didalam hatiku. Aku merasakan bahagia ketika bertemu dengannya dan melihatnya tersenyum. Aku mulai menyukainya. Dan dia menyatakan rasa sukanya kepadaku pada suatu ketika.

“Hmm…Nadya, aku menyukaimu. Kamu…mau ga jadi pacarku?”, dia tiba-tiba bertanya kepadaku ketika kita sedang berada di mobil setelah nonton di bioskop.

Aku terdiam. Tak mampu berkata-kata. Perasaanku bercampur aduk.

“Kok diem?”, tanyanya kemudian setelah melihat aku terdiam salah tingkah.

“Emang kamu sejak kapan suka ama aku? Kok bisa?”, pertanyaan bodoh itu meluncur keluar dari bibirku begitu saja.

“Pentingkah?”, tanyanya sambil menatapku secara dalam.

“Yaa enggak sih. Aku cuma pengen tau aja”, jawabku bodoh.

“Aku ga tau sejak kapan suka ama kamu. Perasaan itu mengalir begitu aja. Aku suka karna kamu adalah cewek yang menarik. Kamu pinter dan lucu. Dan aku menyukai semua yang ada di dirimu”, dia menjawab tanpa ragu.

“Jujur aja kamu adalah cowok yang baik. Menurutku kamu adalah sosok yang menyenangkan. Kamu selalu bisa bikin aku tersenyum…”, aku mulai mendeskripsikan pandanganku tentangnya.

“Karna aku ingin menjadi orang yang selalu membuat kamu tersenyum”, ucapnya sambil tersenyum.

“Tapiii aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku akuu…”

“Kalo kamu perlu waktu aku akan menunggu jawaban dari kamu. Aku ga mau maksa kamu untuk jawab sekarang”, potongnya sambil tersenyum kepadaku.

Aku hanya mengangguk dan berkata “Thanx”. Aku memang menyukainya. Tapi aku masih bingung apa benar aku menyukainya atau hanya kagum kepadanya. Aku benar-benar memerlukan waktu untuk mempertimbangkannya untuk menjadi kekasihku. Mungkin ini adalah waktuku untuk membuka lagi pintu hatiku yang setelah sekian lama tertutup rapat. Mungkin ini saatnya bagiku untuk memulai lembaran baru. Aku senang mendengar pengakuan bahwa dia menyukaiku.

Ketika mengantari aku pulang, dia berkata “Aku tunggu jawabannya yah. Kamu boleh berpikir sampai kamu udah merasa siap.”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Malam ini aku ga bisa tidur karna memikirkannya. Let this feeling burn into my heart and i will let it burn…

Dan akhirnya aku tertidur.

Serial Nadya eps. 3 - MisS thE oLd oF yOu

A week later…

Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Perasaan rindu yang menggebu tak mampu membuatku untuk berdiam diri. Aku ingin menemuinya. Tanpa disadari aku menyetir mobilku untuk pergi ke rumahnya. Mobilku terhenti tepat di depan rumahnya. Pagar berwarna stainless steel rumah itu tertutup rapat. Mobilnya terpakir rapi di halaman rumahnya. Aku pernah ke rumah itu. Aku pernah memasuki rumah itu. Rumah yang dulu aku singgahi untuk beberapa kali. Aku memarkir mobilku beberapa rumah dari rumahnya. Aku berjalan keluar dari mobilku untuk berdiri agak jauh dari pagar rumahnya. Aku takut orang-orang rumahnya melihat kehadiranku. Aku menekan beberapa digit angka nomor handphonenya dari handphoneku.

“Halo”, suaranya terdengar jelas setelah nada sambung berbunyi untuk beberapa kali.

“H-Halo”, jawabku gugup. “Kamu lagi ngapain?”

“Lagi nonton TV nih. Kamu lagi ngapain?”

“Aku ada di depan rumahmu. Aku pengen ketemu ama kamu. Bisa gak kamu keluar bentar?”

“Kamu ngapain kesini? Kenapa ga bilang-bilang dulu?”, nadanya terdengar gusar.

“Maaf”, jawabku lesu.

“Sorry aku ga bisa temuin kamu. Aku takut kamu bakalan nangis. Aku paling ga tahan liat kamu nangis. Kamu mendingan pulang aja ok? Aku bener-bener ga bisa. Sorry.”

Aku menghela nafas panjang. “Oke. Maaf udah mengganggu kamu”, lanjutku.

Dan entah kenapa langit serasa mengerti kesedihanku. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Aku tetap berdiri disana. Air mataku yang mengalir keluar telah bercampur dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuhku. Aku melihat bayangan dirinya di jendela sedang menatapku. Aku tetap berdiri disana. Ingin kulangkahkan kakiku untuk menjauh dari tempat itu. Namun aku tak mampu menggerakkan kedua kakiku. Aku hanya mampu berdiri di tempat itu sambil menangis. Tiba-tiba handphone ditanganku bergetar dengan nada SMS yang masuk. Aku coba untuk membacanya dengan susah payah karena hujan deras yang membasahi layar handphoneku.

Kamu mendingan pulang deh. Aku ga mau kamu nanti jatuh sakit. Maaf.

Aku sangat mengerti kata-kata darinya di SMS tersebut. Kemudian aku mengerahkan kekuatan penuh untuk menggerakkan kakiku untuk berjalan ke arah mobilku. Bajuku yang telah basah kuyup membasahi jok mobilku. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam mobilku. Aku tak tau telah berapa lama aku menangis di dalam mobilku. Hatiku sudah tidak dapat lagi dilukiskan dengan kata-kata. Hanya perih yang terasa. Hanya sesak yang terasa di dadaku. Hingga tidak aku hiraukan lagi dingin yang menyelimuti seluruh tubuhku. Tiada lagi kehangatannya dalam menyambutku seperti dulu. Dia telah benar-benar berubah menjadi sosok yang tidak kukenal lagi. Dia yang dulu begitu gencar untuk mendekati aku. Dia yang dulu mengucapkan kata-kata manis padaku. Dia yang dulu berjanji ingin membuatku tersenyum setiap hari. Namun dia telah membuatku menangis setiap hari selama sebulan lebih sejak di coffee shop itu. Aku sangat merindukan sosoknya yang dulu yang begitu mencintaiku dan perduli padaku. Namun kini dia sudah tidak memperdulikan diriku lagi. Tidak memperdulikan perasaanku lagi. Aku yang telah merendahkan harga diriku untuk menemuinya. Aku yang telah mencoba untuk menghilangkan ego-ku untuk bertemu dengannya. Aku sudah tidak mampu mengingat apapun lagi. Perasaanku kini telah benar-benar hampa dan terluka. Tangisku tiba-tiba berhenti. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku harus mampu melupakannya. Aku harus mampu untuk menata puing-puing hatiku yang telah hancur untuk menjadi utuh kembali. Dan Lagu Sedih-nya Mulan terdengar dari tape mobilku. Aku melajukan mobilku untuk pulang kerumah. I’ve learned that no matter how bad my heart is broken, the world doesn’t stop for my grief. That’s why I should learn to move on. I believe that people who scare to make a move and change, they are people who afraid to face reality on the future.


Begitu Indahnya Untuk Dikenang
Saat Kamu Masih Mengejar Cintaku
Begitu Manisnya Tangismu Untuk
Memohon Hadirku Kedalam Hidupmu

Katamu Kau Tak Akan Tinggalkan Aku
Sakiti Aku Lukai Aku
Tapi Kau Ternyata Tinggalkan Aku
Sendiri…
Katamu Kau Tak Akan Pernah Duakan
Hatimu… Cintamu…

Kemana Perginya Kamu Yang Dulu
Yang Maunya Selalu Dekat Dengan Aku
Kemana Perginya Cinta Yang Dulu
Yang Pernah Kau Tikam Ke Dalam Jantungku

Serial Nadya eps. 2 - tHiS LovE hAs KiLLinG mE

One month later…

Sebulan telah berlalu atas kejadian di coffee shop Excelso tersebut. Masih teringat jelas setiap detail air mata yang mengalir di pipiku. Aku pergi ke Plaza Indonesia untuk sekedar refreshing dan mencari buku untuk bahan presentasiku besok. Aku ingin menghilangkan semua rasa penat yang ada didalam pikiranku. Hingga ketika aku berjalan melewati restoran Courtyard, mataku terpaku menatap kepada sesosok pria di depanku. Wajah yang sangat kukenal. Sosok orang yang mampu meluluh lantahkan segenap jiwa dan perasaanku. Dia adalah orang yang telah membuatku bahagia dan menangis karnanya. Dia adalah orang yang telah meninggalkanku. Kekasihku yang sangat aku cintai. Tapi tunggu dulu. Dia tak sendiri. Di sampingnya berdiri seorang gadis manis yang belum pernah kulihat wajahnya sebelumnya. Gadis itu bukan salah satu temannya. Bukan juga saudaranya. Raut wajahnya terlihat kaget ketika melihatku. Tatapan mata rasa bersalah terpancar dari matanya. Perasaanku bercampur aduk.

“Hai”, sapaku.
“Eh..Hai”, jawabnya dengan kaku.
“Sama siapa?”
“Sa-Sama teman”

Aku melihat gadis itu. Dia hanya tersenyum menatapku dan menatap wajah laki-laki itu dengan pandangan heran. Dia mungkin tau sesuatu. Dia juga mungkin tau siapa aku.
“Oke deh. Aku duluan yah. Bye”, aku berpamit padanya.

Perasaanku sudah tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata lagi. Aku bahkan tak mampu berpikir dengan jernih. Hatiku hancur. Secepat itukah dia telah melupakanku? Padahal kita berpisah baru 1 bulan lamanya. Aku segera berlari ke toilet. Aku menangis didalam toilet. Hatiku terasa sangat perih. Dia yang pernah menyayangiku. Dia yang pernah mencintaiku. Dia yang sangat aku cintai. Dia yang sangat aku percayai. Mengapa begitu tega menghancurkan hatiku hingga seperti ini. Tuhan, tolong berikan kekuatan pada diriku. Aku harus kuat dalam menghadapi semua cobaan yang menimpaku. Aku tak mampu berpikir banyak. Aku hanya mampu menangis dengan lemah. Aku terlihat lemah dan tak berdaya.
Tujuan awalku untuk ke Plaza Indonesia adalah karna aku ingin membeli buku untuk bahan presentasiku untuk meeting di kantorku besok. Besok pagi aku akan memberikan presentasi kepada klien tentang statistik data operating system yang akan launching pada awal bulan depan. Aku sudah tidak memikirkan buku yang aku cari. Aku juga tidak memikirkan presentasi yang akan aku lakukan untuk meeting besok pagi. Yang aku pikirkan untuk saat ini adalah untuk segera pulang kerumah dan mengurung diriku di kamar. Aku hanya ingin menangis hingga aku terlelap tidur. Aku keluar dari kamar mandi yang telah aku masuki setengah jam lamanya. Aku menatap wajahku di cermin. Mataku bengkak dan hidungku memerah. Aku merasa beruntung karna hanya ada seorang cleaning service di toilet ini. Dia menatapku sekilas dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Aku merasa malu pada diriku yang lemah dan tak berdaya. Aku mulai memoleskan bedak pada hidungku supaya warna merahnya dapat tersamarkan. Dan aku berjalan keluar untuk segera pulang kerumah.

Aku menguatkan diriku untuk tidak menangis di mobil dalam perjalanan pulang. Aku gak mau papa mama di rumah melihatku menangis. Aku tak mau membuat mereka mengkhawatirkanku. Hanya beberapa linangan air mata mengalir keluar dalam perjalanan pulangku. Aku menghapus beberapa tetes air mata di sudut mataku. Papa dan mama yang sedang menonton TV di ruang tamu tidak menyadari bahwa aku sedang merasa sedih. Karna aku tersenyum kepada mereka.

“Udah pulang sayang?”, tanya papa kepadaku.
“Iya nih pa. Nih lagi mau kerjain presentasi buat meeting besok”, aku berbohong kepada papa.
Kemudian aku berjalan memasuki kamarku dan menguncinya agar tidak ada orang yang masuk.

Aku benar-benar ingin menyendiri. Aku membenamkan wajahku ke bantalku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupku. Aku mengingat awal pertemuanku dengannya hingga aku jatuh cinta kepadanya.

“Aku mencintai kamu Nadya. Aku takut kehilangan kamu. Aku mohon kamu jangan pernah meninggalkan aku yah?”

Kata-katanya masih teringat jelas dalam pikiranku. Aku juga ingat kejadian di Excelso sebulan yang lalu ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
Aku…masih sangat mencintainya. Namun ia telah melupakan semua tentang kita secepat ini. Dia telah melupakanku ketika aku bahkan belum mampu untuk berhenti menangis selama sebulan ini. Aku harus melupakannya. Dan aku pun tertidur dalam tangisku. Aku merasa teramat lelah. Lelah atas apa yang telah terjadi dalam hidupku. Lelah akan air mata yang terus mengalir keluar dari kedua bola mataku. Aku hanya ingin tidur tanpa memikirkan apapun.

Aku percaya bahwa ketika seseorang memberikan kamu seribu alasan untuk menangis, maka dunia akan memberikan kamu seribu alasan ‘tuk tersenyum.

Serial Nadya eps. 1 - aT tHaT CoFFee shOp…

“Ada sesuatu yang pengen aku omongin ama kamu”, dia berkata dengan nada datar serta tatapan mata yang tajam menghujamku. Dia duduk di hadapanku. Dia terlihat begitu dingin dengan raut wajah yang seperti itu. Wajahnya tampak pucat seperti sedang menahan sesuatu. Aku tidak pernah melihat raut wajahnya yang seperti itu sebelumnya. Selama ini tatapan matanya selalu terlihat hangat ketika menatapku. Dia terasa sangat berbeda membuatku seperti tidak mengenalinya.

Aku hanya duduk terdiam tanpa berani menatap ke dalam bola matanya yang tampak tajam dan membesar. Aku tertunduk sambil memainkan gelas yang berisi Blossom Freeze yang kupesan. Hari itu Excelso tampak tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Kemudian salah satu pelayan datang menghampiri meja kami sambil menyodorkan buku menu kepadanya dan berkata “mau pesan apa, pak?”

“Saya mau Iced Chocolate satu yah”, jawabnya sambil mengembalikan buku menu kepada pelayannya setelah ia melihat-lihat sekilas ke dalam buku menu tersebut.

Dia tidak suka minum kopi sama seperti aku. Aku sangat mengetahui selera minumannya. Dia suka minuman yang manis, berbeda denganku yang tidak terlalu suka minuman manis. Makanya aku selalu memesan Blossom Freeze yang merupakan campuran yoghurt, strawberry, dan jeruk. Minuman itu terasa tidak terlalu manis dan sedikit asam. Sangat segar dan nikmat. Aku mencoba menyeruput minumanku sedikit.

“Aku merasa hubungan kita semakin berbeda sekarang. Aku terus memikirkannya setiap malam. Aku memikirkan tentangmu. Dan….”, kata-katanya terputus. Dia menundukkan wajahnya sebentar kemudian menatapku kembali. Mencoba untuk memperhatikan reaksiku.

“Trus?”, tanyaku datar.

“Aku merasa takut untuk melanjuti hubungan ini. Kamu adalah cewek terbaik yang pernah aku temui. Tapi aku ga pengen bikin kamu sedih lagi. Aku merasa kalau selama ini aku banyak menuntut dan juga melarang kamu. Makanya aku pikir lebih baik kita berpisah saja. Aku gak mau kecewain kamu lagi”

Dia masih menatapku setelah melontarkan kata-kata tersebut. Terlihat sesal pada raut wajahnya. Matanya menyiratkan duka. Dia tampak berat untuk melakukan semua ini. Tapi aku tidak tau pasti apa yang membuatnya ingin mengakhiri semua ini. Dia masih menunggu reaksiku.

“Aku mengerti”, jawabku setelah terdiam sekian lama. Perasaanku bercampur aduk. Hatiku terasa perih, namun jiwaku terasa hampa dan melayang. Kepalaku terasa pening bagaikan terhantam sebuah kayu. Namun aku coba untuk bersikap tenang. Meskipun hatiku meronta-ronta mengatakan TIDAK dan menolak dengan keras. Tapi reaksi yang aku tampilkan tidak seperti apa yang ada di dalam hati. Aku terlihat lebih tenang setelah beberapa hari sedikit uring-uringan mencium gelagat yang tidak baik pada apa yang akan terjadi. Aku terlihat lebih siap.

“Maafin aku…Maaf kalo selama ini aku hanya bisa membuat kamu sedih dan menangis…Aku ga mau melihat kamu bersedih lagi…Aku sorry banget…”, dia mencoba menggenggam tanganku dan menatapku dengan dalam. Wajahnya terlihat sendu, tapi aku yakin ini lah yang terbaik untuk dirinya.

“Don’t say sorry. Kamu ga salah kok. Aku bisa ngertiin keputusan kamu kok”, aku tersenyum padanya.

“Aku justru mau berterima kasih kepadamu”, lanjutku.

“Terima kasih? Kok terima kasih?”

“Terima kasih atas segalanya”, aku tersenyum dengan tulus. Aku mencoba untuk menahan air mataku yang hendak mengalir keluar. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuknya. Aku tidak ingin membuatnya didalam posisi sulit. Aku ingat pepatah yang pernah kubaca dalam sebuah email yang berkata: Ketika seorang lelaki tidak menginginkanmu, tak ada satu hal pun yang mampu membuatnya untuk tinggal. Namun ketika seorang lelaki menginginkanmu, tak ada satu hal pun yang mampu membuatnya pergi. Kata-kata itu tertanam jelas dalam pikiranku.

“Beberapa hari ini aku juga udah banyak berpikir…”, lanjutku. “Maka dari itu aku ingin berterima kasih. Terima kasih telah mengajari aku mencintai dengan tulus. Karna kamu, aku jadi mengerti arti cinta sejati sesungguhnya. Karna kamu, aku juga belajar untuk memaafkan. Tanpa kamu minta maaf pun, aku sudah memaafkan kamu. Aku justru merasa bahagia bahwa aku pernah mengenalmu. Thanx ya”, aku tersenyum meskipun hatiku terasa sakit saat mengucapkan kata-kata barusan.

“Oke. Thanx. You’re so nice. Aku percaya bahwa seseorang yang menjadi pasangan kamu kelak adalah orang yang sangat beruntung. Maaf kalo bukan aku orangnya. Aku permisi dulu yah. Selamat tinggal”, ujarnya sambil melepaskan genggaman tangannya dan berdiri dari tempat duduknya.

“Selamat tinggal”

Dan dia pun berlalu dari hadapanku. Dan dia melangkah keluar dari kafe ini. Dan dia telah berlalu dalam hidupku. Dan aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Dan aku menatap punggungnya yang makin menjauh dari tempatku duduk. Hingga dia menghilang di balik kerumunan orang-orang yang sedang berlalu lalang di jalanan depan kafe. Dia telah benar-benar hilang dari pandanganku yang terus menatap ke arah kerumunan tersebut. Tanpa terasa air mata yang telah tertahan di sudut kedua bola mataku akhirnya tertumpah keluar. Aku tak ingin dia melihatku menangis. Bila aku menangis didepannya, maka aku akan membuatnya dalam posisi yang sulit. Aliran hangat air mata telah menjalari kedua pipiku. Aku tak perduli dengan pandangan pengunjung-pengunjung serta para pelayan sekitar yang menatapku dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Aku tidak menangis meraung-raung. Hanya air mata yang mengalir keluar tanpa henti. Aku mencoba untuk menghentikannya. Namun tampaknya sinyal otak yang kuberikan untuk kedua bola mataku tidak bekerja untuk saat itu. Perasaanku hampa. Pikiranku kosong untuk seketika. Hatiku bagaikan tersayat-sayat. Sakit!! Dadaku terasa sesak. Aku tak mampu bernafas. Aku juga tak mampu berpikir banyak setelah kepergiannya. Tiba-tiba aku merasakan ketakutan serta kebingungan. Apa yang harus kukatakan kepada keluarga dan teman-temanku. Lalu apa yang harus kulakukan bila bertemu dengannya suatu saat nanti. Bagaimana caraku menjalani hari-hariku selanjutnya tanpa dia, tanpa kehadirannya.

Kata demi kata yang pernah terucap dari bibirnya terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku. Pikiranku menari-nari untuk mengingat kembali ke masa kebersamaan kami. Mungkin memang ini semua salahku karna aku terlalu mencintainya. Hingga aku mengenyampingkan semua impian dan hidupku demi dirinya. Aku menyadari arti dari mencintai. Ketika aku mencintainya, aku hanya mampu melihat dia yang kucinta tanpa memandang siapa dia dan dari mana dia berasal. Mencintai bukan berarti harus memiliki. Yang terpenting adalah melihat orang yang kita cintai bahagia dan tersenyum. Sayup-sayup terdengar iringan lagu Bye Bye-nya Mariah Carey sedang diputar. Aku menghela nafas panjang dan tersenyum. Hari-hariku akan terasa berbeda mulai saat ini tanpa dia.

Dan aku pun bangkit dari tempat dudukku dan melangkah keluar dari kafe Excelso dengan secercah harapan-harapan baru yang menantiku di luar sana.

Aku percaya bahwa matahari akan bersinar setelah hujan turun membasahi dunia. Dan aku memahami bahwa mencintai bukanlah bagaimana caranya kamu melupakan, namun bagaimana caranya kamu memaafkan. Bukan juga bagaimana caranya kamu mendengarkan, namun bagaimana caranya kamu mengerti. Bukan pula apa yang kamu lihat, tapi apa yang kamu rasakan. Dan bukan juga bagaimana caranya kamu membiarkannya pergi, tapi bagaimana caranya kamu bertahan…


This is for my peoples who just lost somebody
Your best friend, your baby, your man, or your lady
Lift your head way up high
We will never say Bye…

Dia, petunjuk dari Tuhan yang selalu kusangkal

Aku bertemu dengan Matthew secara tidak sengaja. Siang itu aku janji ketemuan dengan teman-temanku. Aku baru saja patah hati karena putus dengan kekasihku, Nathan. Sehingga aku coba untuk bersosialisasi kembali dengan teman-teman lamaku. Dan disana ada beberapa sosok pria yg tidak aku kenal. Teman-temanku memperkenalkan kepadaku. "Hai, aku Matthew", ucapnya saat itu. "Nadya", jawabku. Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Sombong pikirku. Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya saat itu. Beberapa hari kemudian ketika aku sedang online YM, dia meng-invite aku di YM. "Hai masih inget gue?", dia tiba2 mengajakku chatting via YM. Si pria sombong waktu itu pikirku. "Masih", jawabku. Tapi aku mengaggumi avatar dia pada saat itu, gambar seekor anjing shihtzu yang lucu. Aku tak kuasa untuk menanyakan "Anjing lo yah? Namanya siapa?". Dia menjawab "Iya, namanya Brownie". Seketika itu juga aku teringat akan kue brownies yang lezat. Setelah itu dia mulai mengajakku ngobrol panjang lebar. Ternyata dia tidak sesombong ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Kemudian dia berkata, "Boleh minta nomor handphone lo ga? Gue lagi mau pergi ke gereja bentar lagi". Kemudian aku memberikan nomor handphoneku kepadanya.
*****
Hari berganti hari, hubunganku dengan Matthew semakin dekat. Dia mencoba menghiburku ketika aku masih merasa sedih atas kehilangan seseorang yang aku cintai, Nathan. Matthew selalu menemaniku dikala aku sedih. Dia menemani ketika aku harus menjalani operasi gigi gerahamku yang tidak tumbuh keluar. Dia mencoba menghiburku ketika aku merasakan sakit sehabis operasi. Dan ketika aku merasa malu untuk berkaca karena pipiku yang bengkak. Setiap kali berkaca aku suka menangis dan merasa sedih karena mukaku terlihat jelek sekali. Namun Matthew berkata "Kamu tetap keliatan cantik kok". Aku tersenyum ketika itu. Aku tau dia cuma berusaha menyenangkanku. Dia adalah pria yang sangat baik. Sebulan setelah kedekatan kita, Matthew coba untuk menyatakan cintanya kepadaku dan memintaku menjadi kekasihnya. "Nadya, aku sayang ama kamu. Will you be my girlfriend?". Aku hanya bisa terdiam. Aku belum bisa melupakan Nathan. "Sorry Matt, kamu orangnya baik banget. Tapi aku belum siap untuk memulai hubungan yang baru. Aku masih belum bisa melupakan Nathan", jawabku. "Gak papa Nad. Aku rela kok jadi pelarian kamu sampe kamu bisa melupakan Nathan", dia menatap mataku dalam-dalam. Bodoh!! Pikirku dalam hati. Kenapa dia begitu bodoh mau jadi pelarianku? "Sorry Matt, tapi aku bener-bener ga bisa. Ini ga akan adil buat kamu. Aku ga mau menyakiti kamu. Sorry Matt aku ga bisa. Kita tetap temenan aja ya?". Dia hanya mengangguk lemah. Aku tau hatinya sedih, tapi aku cuma tidak ingin menyakiti hati orang sebaik Matthew.
*****
Matthew masih tetap mendekatiku. Ketika aku sakit, dia datang kerumahku membawakan buah-buahan dan vitamin. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Ketika aku ada acara kantor di daerah yang sangat jauh dari rumahnya, perlu sekitar 1,5jam untuk sampai ketempat itu, dia datang menjemputku pulang ketika dia menelepon dan tau aku tidak ada yang mengantar pulang. Dia hanya khusus datang untuk menjemputku pulang kerumah. Oh baiknya dia. Berulang kali dia memintaku untuk menjadi kekasihnya, dan setiap kali pula aku menolaknya. Ketika aku berulang tahun, secara diam-diam dia mencari tau nomor telepon rumahku yg entah dari mana dia dapatkan. Dia menelepon mamaku untuk memberitahukan bahwa dia ingin membikin surprise untukku. Siang itu aku sedang merasa kesal dengan Matthew. Ini hari ulang tahunku tapi dia bersikap biasa aja. Ketika aku mengajaknya untuk pergi makan bersama teman-temanku untuk merayakan ulang tahunku, dia menolak. Aku merasa kesal sekali dengannya ketika itu. Dan saat aku sedang pergi makan dengan teman-temanku untuk merayakan ulang tahunku, mamaku meneleponku untuk segera pulang kerumah. Aku bingung kenapa dari nadanya terkesan memaksa. Padahal aku sedang merayakan ulang tahunku dengan teman-temanku. Ah mamaku ini mengganggu kesenanganku saja. Aku pulang kerumah dengan rasa jengkel. Ketika aku sampai didepan rumah, aku liat rumahku gelap gulita. "Duh aku udah cepat2 pulang kerumah tapi kenapa udah pada tidur sih? Aneh!", pikirku dalam hati. Kemudian aku berjalan masuk ke dalam rumahku dan menuju ruang tamu. Tiba-tiba ada yang menyanyikan lagu Happy Birthday buatku. Dan itu adalah Matthew yang sedang memegang sebuah kue kesukaanku, strawberry cheesecake, beserta lilin2 yang menyala. Aku sangat terharu dan merasa malu karena sempat kesal dengannya yang tidak mau merayakan hari ulang tahunku dengan teman-temanku. Padahal ternyata dia telah menyiapkan kejutan di hari ulang tahunku. Kemudian dia memberikanku kado sebuah ipod video berwarna putih. Ahh itu barang yang sedang aku inginkan. Ya Tuhan Matthew begitu baik kepadaku. Sosoknya yang tinggi dengan wajah yang mendukung, aku yakin banyak sekali wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Beberapa temanku memuji wajahnya yang ganteng. Dan mereka kerap menanyakan padaku kenapa aku tidak mau jadi kekasihnya, karena apabila mereka yg jadi aku maka mereka akan mau menjadi kekasihnya. Aku bingung. Apa yang salah denganku? Aku menyukai Matthew, tapi perasaan itu hanya sebatas itu saja. Aku ga bisa mencintainya seperti aku mencintai Nathan. Padahal Matthew sangat baik dan dia mencintai aku apa adanya. Aku masih mencintai Nathan dan tidak bisa melupakan sosok Nathan sedetikpun. Meskipun dia telah meninggalkanku dan menyakiti hatiku.
*****
Setelah beberapa bulan, tiba-tiba Matthew bilang kepadaku "Nadya, aku mimpi kamu lari menjauh dariku. Dan setiap kali aku mengejarmu dan berusaha menangkapmu, kamu berlari semakin cepat dan menjauh. Aku udah merasa cape dengan keadaan begini. Aku menyerah Nad. Aku cuma mau menanyakan untuk terakhir kalinya maukah kamu menjadi kekasihku? Bila jawabanmu tidak, maka aku akan berhenti mengejarmu mulai saat ini. Dan aku akan menjauh darimu". Aku merasa sedih dengan perkataannya. Aku takut kehilangannya. Tapi aku tidak bisa menjadi kekasihnya. Aku sungguh dilema. Aku tidak bisa membohongi perasaanku untuk berpura2 mencintainya. Aku ga mau dia cuma jadi pelarian dikala hatiku berasa hampa. "Maaf Matt, aku sungguh2 minta maaf aku ga bisa. Mungkin ini terakhir kali kita bertemu. Terima kasih atas segala kebaikanmu. Jaga dirimu baik-baik", jawabku. Tanpa kusadari air mataku menetes. Aku sedih membayangkan aku kehilangan seseorang sebaik dirinya. Tapi aku juga tidak bisa merasa egois untuk menahannya. Karena aku ga bisa memberikan dia harapan terus2an. Matthew terlihat kecewa dan sedih. Dia berkata "Oke kalau itu maumu Nad. Aku akan menjauh pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Kamu juga jaga dirimu baik-baik yah"
*****
Seminggu berlalu dari hari itu. Aku merasa sedih kehilangan Matthew. Aku bingung dengan perasaanku. Kemudian aku coba berdoa dalam hati "Tuhan apabila Matthew adalah jodohku, tolong kasih aku petunjuk". Satu jam kemudian tiba-tiba Matthew datang kerumahku. Aku merasa kaget. Sudah seminggu aku tidak mendengar kabar darinya tiba-tiba dia datang kerumahku. Aku merasa sangat bahagia, tapi aku berusaha terlihat biasa saja. Gengsi. Kemudian kita bercanda-canda seperti biasanya. Tiba-tiba aku bertanya "Kok tumben kesini? Emang habis dari mana?". Dia menjawab "Aku tadinya mau pergi sama teman-temanku. Pas lagi di jalan tiba-tiba aku dapat bisikan kalo aku harus kerumah kamu sekarang. Aku juga ga tau kenapa. Aku merasa itu kayak pertanda dari Tuhan". Aku cuma bisa bengong. Apakah mungkin dia jodohku? Apakah ini jawaban dari Tuhan. "Hmmm..sebenernya sebelom kamu kesini aku sempat berdoa minta petunjuk dari Tuhan kalo kamu bener jodohku", jawabku. Dia terdiam untuk beberapa saat dan akhirnya berkata "Nad, aku yakin kalo kita jodoh. Aku sering dapat sign dari Tuhan kalo kamu adalah jodohku. Yg tadi itu paling kuat. Rasanya kayak ada yang bisikin aku kalo aku harus ketemu kamu sekarang juga. Aku juga ga tau kenapa. Apa kamu percaya Nad?". Aku hanya bisa menarik nafas panjang. "Aku bingung Matt. Aku ga tau", aku hanya bisa menjawab itu. "Nad, aku mo coba lagi untuk mendekatimu. Kasih aku kesempatan lagi", pintanya. Aku hanya mengangguk. Didalam hati aku terus bertanya kepada Tuhan apakah benar semua pertanda yang serba kebetulan ini? Dan disaat yang bersamaan aku juga menyangkal dan berpikir ini cuma kebetulan aja.
*****
Matthew berulang tahun. Aku memberikannya sebuah jam tangan. Dia terlihat sangat senang. Dan aku tetap saja masih menolaknya berulang kali. Tapi segala cara dia lakukan untuk menjadi kekasihku. Dia pernah berlutut dihadapanku memohon untuk menjadi kekasihku. Hingga akhirnya aku bilang kepadanya coba untuk menanyakan sama orang tuaku. Kemudian suatu ketika dia ngomong dengan orang tuaku untuk meminta ijin dari mereka untuk menjadi kekasihku. Sebuah hal berani yang dilakukan seorang pria. Berulang kali teman baikku mencoba meyakinkan aku bahwa Matthew adalah sosok yang tepat untukku. Matthew begitu mencintaiku hingga melakukan segala hal dan pengorbanan untuk diriku. Tetapi aku tetap berargumen dengan temanku dan menyangkalnya. Ga mungkin Matthew adalah jodohku. Temanku merasa sangat kesal denganku, dia berkata "Ya sudah terserah kamu. Jadi apa itu pertanda dari Tuhan? Kamu masih ga percaya? Kelak kamu jangan menyesal kalo dia benar2 mundur dan menjauh darimu". Aku tidak memperdulikan peringatan temenku. Aku mau pria yg lebih tua untuk menjadi kekasihku. Matthew seumuran aku. Itulah alasan kenapa aku ga bisa merasa yakin dengannya.
*****
Matthew sudah menjauh dariku. Kali ini dia benar-benar sudah menyerah. Sudah sebulan dia tidak mencariku. Biasanya seminggu saja dia sudah mencariku lagi. Ah mungkin dia sudah tidak menyukaiku, pikirku dalam hati. Tadinya kupikir dia akan mencariku seminggu setelahnya. Tapi ini udah sebulan dan dia tidak mencariku. Aku merasa gengsi untuk mencarinya duluan. Biar aja dia tidak mencariku, dia mungkin tidak serius denganku, pikirku dalam hati. Berbulan-bulan telah berlalu. Matthew benar-benar sudah hilang dari kehidupanku. Mungkin petunjuk dari Tuhan waktu itu tidak benar. Buktinya dia sudah menjauh pergi dari hidupku. Hingga suatu hari Matthew meneleponku. Aku kaget setengah mati. "Halo", ucapku. "Hai Nadya, apa kabar?", tanyanya. "Baik. Kamu apa kabar?", tanyaku balik. "Baik juga Nad. Gimana kerjaan kamu? Besok aku mampir yah kekantormu", ucapnya. "Oke", jawabku. Ada apa dia tiba-tiba meneleponku dan ingin datang ke kantorku? Dia tidak pernah tiba-tiba ingin datang ke kantorku.
Keesokan harinya Matthew benar-benar datang ke kantorku dan mengajak aku lunch di mall dekat kantorku. Kita mengobrol seperti biasa namun lebih kaku. Karena sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Dia masih memakai jam tangan pemberianku. Tuh kan dia masih datang mencariku. Walopun yang kali ini sudah berbulan-bulan. Aku merasa bahagia ketika itu. Tapi dengan gengsi aku menunjukkan sikap yang biasa-biasa saja. Ah nanti juga kita dekat lagi seperti dulu, pikirku dalam hati. Ternyata pikiranku salah. Dia sama sekali tidak mencariku lagi. Berulang kali aku berusaha untuk mencarinya namun ego ku berkata kalau dia benar-benar menginginkan aku, dia pasti mencariku lagi. Dia harusnya bisa mencoba lagi. Mungkin aku akan berubah pikiran. Namun dia tidak pernah mencariku. Hingga sebulan berlalu aku melihat di salah satu situs jejaring sosial kalau dia sudah punya pacar. Kemudian aku mulai bertanya-tanya dalam hati kenapa terakhir kali dia masih mencariku padahal dia sudah dekat dengan wanita lain. Begitu mudahnya bagi dia sudah mendaptkan pengganti. Ah lelaki dimana-mana sama aja. Kupikir waktu itu dia mencariku lagi karena dia ingin mencoba lagi. Aku merasa kesal dan cemburu ketika mengetahui dia sudah punya pacar. Beberapa bulan berlalu, aku coba untuk melihat kembali situs jejaring sosialnya, aku melihat foto-foto dirinya dengan sang kekasih. Dia masih memakai jam tangan pemberianku. Aku merasa menyesal mengapa aku terlalu gengsi untuk mencarinya dan menyia-nyiakan semua kebaikannya. Sekarang dia sudah benar-benar pergi dari hidupku, aku baru merasa menyesal. Berbahagialah wanita yang menjadi kekasihnya. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan itu. Dan air mataku bergulir dari kedua bola mataku.
*****
Sudah 2,5 tahun berlalu, aku masih menyimpan penyesalan. Dan aku sungguh menyesal tidak pernah meminta maaf kepada Matthew betapa aku telah jahat dan menyia-nyiakan dirinya. Selalu menyangkal petunjuk dari Tuhan. Aku coba untuk melihat situs jejaring sosial miliknya. Dia masih berpacaran dengan wanita itu. Dan di foto2 barunya dia masih memakai jam tangan pemberianku! Sudah 3 tahun aku memberikan jam tangan itu kepadanya. Dan dia masih memakainya. Andai saja aku dapat memutar kembali waktu, aku ingin memberitahunya bahwa betapa berartinya dia dalam hidupku. Betapa aku menyesal telah menyia-nyiakan dirinya dan tidak pernah menghargai semua pengorbanannya. Betapa aku ingin meminta maaf kepadanya, namun selalu kuurungkan niatku. Memang penyesalan selalu datang terlambat. Bila memang dia adalah petunjuk dari Tuhan bahwa dia adalah jodohku, maka seharusnya kami akan bertemu di saat yang tepat. Aku menyesal. Mungkin aku memang tidak pantas untuknya. Hati kecilku selalu bertanya soal petunjuk dari Tuhan yang terlihat begitu nyata ketika itu. Maafkan aku Matthew. Maaf....

Jika Mencintaimu

Jikalau mencintaimu sebuah karma
Maka takkan kusesali asa yang hampa
Jikalau mencintaimu adalah karma
Maka takkan kupungkiri rasa yang ada
Karna disiniku merindumu

Jikalau mencintaimu sebuah salah
Maka takkan kuhindari jiwa yang gundah
Jikalau mencintaimu adalah salah
Maka takkan kuenyahkan hati yang musnah
Karna disiniku menginginkanmu

Dan bila mencintaimu terasa sulit
Takkan goyah hati ‘tuk bangkit
Meski berada di tengah himpit
Hingga hela nafas kan berhenti berdenyit

.. mY shadOw (and u always be my illusion) .. 22.10.07

my shadow has already fly away
i can’t hold on anymore
my shadow don’t want to stay
i can’t hope no more
cOz this is shadow that i miss

tears that has fallen apart through eyes
never make my shadow blur from vision
hurt that leaving scar in heart
never make my shadow erase from imagination
coz this is shadow that i wish

my shadow…i used to hold it tight
but my hands aren’t brave enough to hold
my shadow…i used to hug it close
but my arms aren’t strong enough to hug
cOz now the shadow just can be an illusion

…a waLk tO rEmemBer… 27.04.08

I still remember…
The way you kiss my lips
The way you lick my soul
The day when the sun gave its brighter shine on our lives

I keep remember…
The smell of your body
The glance of your eyes
The atmosphere when the candle needed to be light on our nights

I also remember…
The way you make me cry
The way you make me hurt
The moment when the rain gave its darker storm on the skies

The happy…the smile
fade away by the move
The sad…the tears
swept away by the times

This path give me a walk to remember…

~ shOw mE tHe mEaNinG ~ 14-07-2008

When I need someone to talk
But you’re untouchable to share
When I need someone to hug
But you’re not standing here
Show me the meaning of being lonely

When I feel asleep at night
But I can’t close my eyes
When I cry along inside heart
But I can’t wipe off my tears
Show me the meaning of being unhappy

When I really need you to come
But you’re thousand miles far away
When I really wish you to be here
But you don’t give your existence for a day
Show me the meaning of being blurry

~ NevEr MinD ~ 03-08-2008

Never mind you’ve just walk away
Leaving all these memories in this place
Let my soul standing here to count the day
Wishing that forgiveness will bring the peace

Never mind you’ve told me to forget
For every little thing that happened in our lives
Let my mind keep always remember the moment
Wondering that God will lead our moves

And never mind you’ve left me into this pain
Blaming me for thinking too much about our way
Let my self will stop this tears to rain
Thinking that i will slowly walk away