one year and three months later…
Hoaammm…tidurku terasa teramat nyenyak. aku bahkan tidak ingin untuk bangun dari kasurku yang empuk hihihi…tapi aku ingat bahwa hari ini aku ada janji dengan mamaku untuk menemaninya ke Mall. Hari ini adalah hari Sabtu. Ga kerasa udah
weekend lagi!! Waktu terasa begitu cepat berlalu. Dan setahun belakangan ini aku selalu mengisi
weekend-ku untuk
hang out ama temen-temen dari berbagai macam kalangan.
Ring ring. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi.
“Alow nek, udah bangun belom lo?”
“Udah lah. Ada apa nih lo pagi-pagi udah nelponin gue?”
“Ntar malem jadi kan? Jangan lupa ye hwehehehe…Can’t wait for tonite”
“Gile semangat banget sih lo? Iya iya gue ga lupa kok.”
“Okay babe. i’ll pick you up on 6. Dandan yang cantik yah say. See ya.”
Viona, temen kampusku yang barusan menelepon. Malam ini dia mengajakku untuk pergi makan bareng pacar dan teman-temannya. Dia mau mengenalkanku pada temannya. Hal yang biasa bagiku. Aku udah ga dapat menghitung berapa banyak cowok yang dikenalkan oleh temen-temenku kepadaku. Diantara temen-temenku emang aku termasuk salah satu yang masih jomblo. Hal itu lah yang membuat temen-temenku kerap untuk mengenalkanku kepada temen-temennya yang masih jomblo juga. Terkadang aku merasa malas untuk diperkenalkan ke cowok-cowok baru. Karena aku udah tau kelanjutannya. Aku pasti akan bersikap cuek. Karna sejak berpisah dari dia, sulit bagiku untuk menyukai orang lain. Apalagi untuk jatuh cinta. Aaahh…Sudah lama aku tak merasakan jatuh cinta. Bahkan untuk tertarik pada cowok lain pun aku ga pernah. Aku sempat beberapa kali didekati oleh cowok-cowok yang tertarik pada diriku. Dan
aku mencoba untuk membuka pintu hatiku yang telah lama tertutup. Tapi aku ga bisa. Bayangannya masih terus berkelebat didalam pikiran dan hatiku. Aku mulai membanding-bandingkan mereka dengan dia. Aku tau ini ga adil bagi mereka. Aku ga seharusnya melakukan hal itu. Namun hati kecilku ga bisa berbohong. Terkadang aku masih merindukan kehadirannya. Meski dia telah menyakiti hatiku. Meski dia telah memiliki wanita pengganti diriku. Tapi sulit bagiku untuk melupakan semua kenangan tentang dia. Aku menepis semua pikiranku. Aku ga ingin larut terlalu lama dalam pikiran yang telah lama aku lupakan.
*****
5.45 p.m
Baju, tas, dan sepatu telah aku pakai dengan lengkap. Aku tinggal memoles maskara ke bulu mataku. Sebentar lagi Viona akan menjemputku.
Ring ring. Aku melihat nama Viona di layar HPku.
“Halo”
“Say, gue udah mau ampe yah”
“Ok”
Dinn dinnn. Klakson mobil Viona berbunyi didepan rumahku. Aku bergegas keluar rumah. Viona dan cowoknya yang menjemputku.
“Halo”, sapaku kepada mereka berdua.
“Haiii…Aduhhh cantik banget. Jadi ga sabar nih”, ucap Viona setelah aku masuk ke mobilnya.
“Buset. Kenapa jadi lo yang ga sabar. Ini bukan acara temu jodoh kok”, jawabku sambil tersenyum.
Akhirnya kita sampai di restoran seafood Bandar Jakarta, Ancol. Tempatnya bagus dengan suasana pinggir pantai. Viona menarikku ke sebuah meja dimana ada seorang cowok sedang duduk disana.
“Hai Rain, udah lama? Nih kenalin Nadya”, Viona mengenalkan aku ama cowok berambut spike yang sedang memakai kemeja berwarna putih itu.
Viona tersenyum-senyum memandang ke arah kita berdua.
“Haaiii. Fahrenzi. Panggil aja Rain”, cowok itu mengulurkan tangan kepadaku sambil tersenyum.
“Nadya”, jawabku sambil menjabat tangannya.
Duh senyumnya genit banget. Dari caranya berkata “hai” aja keliatan model cowok ganjen. Apa tuh namanya. Fahrenzi? Kok kedengeran kayak Fahrenheit? Nama yang aneh. Panggilannya sok keren banget. Rain. Padahal dia sama sekali ga mirip artis korea, Rain. Tatapan matanya juga genit. Senyumnya genit. Haiz kenapa Viona bisa mengenalkan aku kepada cowok seperti ini?
Akhirnya kita makan malam ber-empat. Aku, Viona, cowoknya Viona - Rico, dan cowok bernama aneh tersebut, Fahrenheit eh Fahrenzi. Kita ngobrol selama makan malam tersebut. Dan aku tetap berusaha menjaga jarak dari Rain. Mungkin di matanya aku terlihat sebagai cewek yang belagu dan sombong. Biarin aja. Emang itu kesan yang aku ingin tinggalkan untuknya. Aku sama sekali ga menyukai cara dia ngomong. Sok diplomatis banget. Gaya bercandanya juga sok lucu. Aku sama sekali ga berminat. Dan ketika aku udah mau pulang, Rain meminta nomor teleponku.
“Boleh minta nomor HP-nya ga?”, Rain bertanya seraya menyodorkan handphonenya kepadaku.
Aku hanya mengangguk dan memasukkan nomor HP-ku ke dalam phone book handphone
Motorolla-nya.
Dan setelah hari itu, Rain sering mengirimkan SMS serta meneleponku. Aku sering tidak menggubris SMS darinya dan bahkan teleponnya pun hanya aku angkat kalau sedang tidak malas. Tapi dia tidak pernah lelah untuk menghubungiku. Kemudian dia mulai mengajakku pergi ketika malam minggu. Dan aku mengiyakan ajakannya.
Saturday, 6 p.m
Rain menjemputku dengan mobilnya. Dia memakai kaos polo shirt berwarna putih. Rambutnya yang model spike ditata dengan sedemikian rapi. Hari itu wajahnya terlihat kalem dan mempesona. Aku menatapnya yang sedang menyetir secara diam-diam. Kita pergi dinner di sebuah restoran Western yang terletak di jalan Veteran. Suasana restoran itu cukup romantis dengan hamparan cahaya lilin yang redup. Kami memilih tempat duduk di lantai atas. Private room yang hanya berisi berkisar 3 meja dan kami memilih meja yang paling dekat dengan jendela.
“Mau pesen apa? Disini favoritenya
Garlic Snail. Mau mencoba?”, tanyanya padaku setelah membolak-balikkan buku menu.
“Hmm..boleh juga”, jawabku sambil tersenyum simpul.
Kemudian dia memesan makanan pada pelayan restoran. Kami mulai mengobrol panjang lebar. Dia mulai menceritakan tentang dirinya dan menanyakan tentang diriku. Pandanganku tentangnya mulai berubah. Dia bukan pria menyebalkan dan genit seperti pandanganku pertama kali tentang dirinya. Dia pria yang sangat sopan. Dia juga bisa membuatku tertawa dengan cerita-cerita konyolnya. Namun terkadang ia bisa menjadi begitu serius. Dia adalah pria yang pintar dalam berbicara serta berwawasan luas. Dia juga sangatlah bijaksana. Itulah hal-hal yang aku bisa nilai dari dirinya pada pertemuanku dengannya hari ini. Hari ini dia terlihat lebih manis dan tidak menyebalkan. Aku diam-diam tersenyum ketika menatapnya.
“Kok senyum-senyum?”, tiba-tiba dia bertanya dalam perjalanan pulang.
“Hah? gak kok. Siapa yang senyum-senyum?”, aku mencoba membantah sambil membuang pandanganku ke arah luar jendela mobil.
Aduh mampus deh. Kok dia sadar yah kalo aku ngeliatin dia dari tadi, pikirku dalam hati.
Dan ketika aku coba untuk memalingkan arah pandangku untuk melihatnya lagi, dia sedang melihatku.
“Kenapa?”, tanyaku dengan pandangan heran.
Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian hening terasa di mobil itu. Kemudian dia tiba-tiba berkata, “Kamu cantik sekali malam ini.” Aku merasakan panas menjalar di kedua pipiku.
Dan aku bersyukur karena kita sedang berada didalam mobil. Karena aku akan lebih merasa malu lagi bila dia melihat kedua belah pipiku yang memerah karena tersipu malu. Hari itu entah mengapa aku merasa bahagia. Baru kali ini aku merasa nyaman ketika berbicara dengan seseorang. Hingga akhirnya kita sudah tiba dirumahku. Dia turun untuk mengantarku hingga ke depan rumah.
“Thanx yah. Bye”, ucapku padanya.
“Okay. Good nite”, dia melambaikan tangannya kepadaku.
Ketika aku berjalan masuk ke kamarku tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk di ponselku.
Thank you for tonight. I’m happy spending time with you. Good night, sweety. Dan aku hanya tersenyum membaca pesan darinya.
Sejak hari itu hubunganku dengan Fahrenzi jadi semakin dekat. Dia mengajakku dalam pembukaan restoran baru milik temannya. Dia mengenalkanku kepada teman-temannya. Dia juga mengajakku
dinner romantis di sebuah restoran yang terletak dipinggir pantai. Terkadang dia bersikap teramat manis. Namun kadang-kadang dia terlihat cuek kepadaku. Aku semakin penasaran dengannya. Ketika aku sedang merasa sedih, aku ingat dia mengatakan kepadaku
“Smile, and the world will smile with you”. Aku merasakan keanehan menjalar didalam hatiku. Aku merasakan bahagia ketika bertemu dengannya dan melihatnya tersenyum. Aku mulai menyukainya. Dan dia menyatakan rasa sukanya kepadaku pada suatu ketika.
“Hmm…Nadya, aku menyukaimu. Kamu…mau ga jadi pacarku?”, dia tiba-tiba bertanya kepadaku ketika kita sedang berada di mobil setelah nonton di bioskop.
Aku terdiam. Tak mampu berkata-kata. Perasaanku bercampur aduk.
“Kok diem?”, tanyanya kemudian setelah melihat aku terdiam salah tingkah.
“Emang kamu sejak kapan suka ama aku? Kok bisa?”, pertanyaan bodoh itu meluncur keluar dari bibirku begitu saja.
“Pentingkah?”, tanyanya sambil menatapku secara dalam.
“Yaa enggak sih. Aku cuma pengen tau aja”, jawabku bodoh.
“Aku ga tau sejak kapan suka ama kamu. Perasaan itu mengalir begitu aja. Aku suka karna kamu adalah cewek yang menarik. Kamu pinter dan lucu. Dan aku menyukai semua yang ada di dirimu”, dia menjawab tanpa ragu.
“Jujur aja kamu adalah cowok yang baik. Menurutku kamu adalah sosok yang menyenangkan. Kamu selalu bisa bikin aku tersenyum…”, aku mulai mendeskripsikan pandanganku tentangnya.
“Karna aku ingin menjadi orang yang selalu membuat kamu tersenyum”, ucapnya sambil tersenyum.
“Tapiii aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku akuu…”
“Kalo kamu perlu waktu aku akan menunggu jawaban dari kamu. Aku ga mau maksa kamu untuk jawab sekarang”, potongnya sambil tersenyum kepadaku.
Aku hanya mengangguk dan berkata “Thanx”. Aku memang menyukainya. Tapi aku masih bingung apa benar aku menyukainya atau hanya kagum kepadanya. Aku benar-benar memerlukan waktu untuk mempertimbangkannya untuk menjadi kekasihku. Mungkin ini adalah waktuku untuk membuka lagi pintu hatiku yang setelah sekian lama tertutup rapat. Mungkin ini saatnya bagiku untuk memulai lembaran baru. Aku senang mendengar pengakuan bahwa dia menyukaiku.
Ketika mengantari aku pulang, dia berkata “Aku tunggu jawabannya yah. Kamu boleh berpikir sampai kamu udah merasa siap.”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Malam ini aku ga bisa tidur karna memikirkannya.
Let this feeling burn into my heart and i will let it burn…
Dan akhirnya aku tertidur.